Kamis , 05 October 2017, 23:14 WIB

Dosen FK UNS Teliti Proses Terjadinya Tumor

Red: Yudha Manggala P Putra
National Institute of Biomedical Imaging and Bioengineering.
Tumor
Tumor

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) dr Pradipto Subiyantoro meneliti proses terjadinya penyakit tumor melalui pemeriksaan metilasi DNA.

"Untuk penelitian ini baru pertama kali di Indonesia, tujuannya untuk mengetahui berapa banyak kandungan metil dalam gen seseorang," katanya di Kampus Fakultas Kedokteran UNS Solo, Kamis (5/10).

Ia mengatakan metilasi DNA merupakan suatu komponen kimia yang menempel pada rangkaian DNA yang memiliki banyak fungsi. Menurut dia, salah satu fungsi yang merugikan adalah gen yang tertempel metil dalam jumlah tertentu akan membuat gen tersebut tidak aktif dan memulai terjadinya tumor.

Ia mengatakan kandungan metil tersebut dapat dihitung, bahkan dapat diperkirakan mengenai kemungkinan seseorang bisa terkena tumor. "Bisa dihitung juga dengan kondisi demikian berapa bulan lagi seseorang ini terkena penyakit tumor. Sel tumor sendiri ada di setiap tubuh manusia," katanya.

Menurut dia, jika sel tumor bekerja dengan baik maka akan memberikan efek yang positif bagi tubuh. Sebaliknya, jika kerja otomatis sel tumor tidak berjalan dengan baik maka akan berpotensi menimbulkan tumor. Ia mengatakan jika tumor tersebut masuk kategori ganas maka menjadi penyakit kanker.

Sementara itu, melalui penelitian tersebut pihaknya ingin menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa ada suatu metoda pemeriksaan genetik untuk memberikan prediksi terhadap kejadian tumor di tahap awal. "Penelitian ini baru tahap awal karena harus dilakukan penelitian lanjutan yang membuat standarisasi ukuran agar dapat dipakai. Selain itu, biaya untuk pemeriksaan sampai saat ini masih mahal," katanya.

Ia mengatakan pada dasarnya penyakit tersebut dapat dicegah dengan langkah dimetilasi. Meski demikian hingga saat ini penelitian belum sampai ke tahap itu. "Nantinya kami buat data lagi untuk bisa digunakan sebagai standar. Semoga cepat ketemu dan bisa digunakan untuk memperkirakan tumor apapun," kata Pradipto yang sudah melakukan penelitian tersebut sejak 2010.

Sumber : Antara

Berita Terkait