Jumat , 22 September 2017, 07:15 WIB

Sulitnya Visualisasikan DNA Berukuran Nano

Rep: Christiyaningsih/ Red: Winda Destiana Putri
DNA (ilustrasi)
DNA (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini kita mengenal bentuk DNA dengan wujud untaian yang melilit dan menyerupai tangga. Untaian DNA dengan struktur dobel helix pertama kali berhasil digambarkan oleh Rosalind Franklin pada era 1950-an.

Namun foto DNA yang dihasilkan oleh Franklin hanyalah sebagian kecil dari wujud utuh DNA. Untaian DNA yang merupakan blueprint manusia sesungguhnya punya struktur yang sangat rumit. Penggunaan alat-alat laboratorium yang canggih tidak menjamin kemudahan dalam mempelajari DNA.

Sulitnya mempelajari DNA karena DNA berukuran amat sangat kecil. DNA hanya memiliki lebar dua nanometer atau lebih kecil dari lebar gelombang cahaya. Para peneliti bisa menggunakan mikroskop elektron untuk mengobservasi material genetik tersebut. Peneliti juga bisa memanfaatkan sinar rontgen seperti yang dilakukan oleh Rosalind Franklin.

Akan tetapi, penggunaan alat-alat tersebut masih belum dapat menghasilkan gambar DNA yang tanpa cacat. Metode terbaik yang kini sedang dijalankan oleh para ilmuwan untuk memvisualisasikan DNA adalah dengan modeling di komputer.

Dengan mengubah wujud DNA ke dalam gambar tiga dimensi, ilmuwan melihat ternyata DNA tidak hanya seperti untaian seperti tangga yang berulir. Sebagian besar untaian saling memilin kuat di dalam nukleus.

Di dalam sel, untaian-untaian tersebut saling terpilin dan jika dibentangkan panjangnya bisa mencapai bermeter-meter. Kondisi ini diibaratkan seperti patung DNA berukuran raksasa. Yang kemudian dimampatkan hingga muat ke dalam kotak yang ukurannya lebih kecil dari kotak sepatu.