Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Aditya Surya Pratama Atasi Stres dengan Menulis

Sabtu 17 Maret 2018 13:30 WIB

Rep: MGROL102/ Red: Yudha Manggala P Putra

Aditya Surya Pratama.

Aditya Surya Pratama.

Foto: Republika/MGROL102
Aktor dan dokter muda ini sudah sempat menulis novel pertama berjudul Aditya Lee.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemeran Budi dalam film Lima Penjuru Masjid, Aditya Surya Pratama mengaku memiliki beberapa hobi yang dijalaninya untuk menghilangkan stres. Salah satunya adalah menulis.

Nulis itu aku justru bisa keluar suatu ide ketika aku lagi stres. Aku nggak bisa kalau lagi bahagia justru aku bisa nulis,” kata dia saat ditemui usai kunjungannya bersama tim dari film Lima Penjuru Masjid dengan Wakil Presiden, Jusuf Kalla di Istana Negara, pada Jumat kemarin (16/3)

Aditya mengaku hal yang membuatnya stres biasanya karena pekerjaan atau tekanan lain. Lewat menulis ia meredakan itu. ”Ada orang yang ada masalah sama kita, justru itu membuat aku semangat menulis. Justru kalau aku lagi bahagia, nggak bisa tuh keluar ide-ide yang aku tuangkan dalam novel,” kata dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta ini.

Sebelumnya, pria kelahiran Bogor, Jawa Barat ini sudah sempat menulis novel pertama berjudul Aditya Lee. Penulisan novel itu ia kerjakan selama enam bulan. Ia mengaku mengalami stres lumayan banyak saat proses penulisan, mengingat itu terjadi saat perpindahan antara kuliah ke koas, serta ditambah jadwal syuting.

Setelah buku pertamanya, ia masih terus menulis. Saat ini ia masih proses mengerjakan buku kedua. ”Yang kedua masih proses jalan baru tiga bulan,” kata dia. 

Aditya mengaku biasa menulis saat malam hari. Pada siang hari banyak aktivitas yang ia lakukan. Ia mengaku membutuhkan waktu tenang dan sendiri untuk menulis.

Ketika menulis ia memiliki kebiasaan unik yaitu memakan buah semangka hanya bagian putihnya saja. ”Ketika aku nulis harus ada buah semangka. Karena dari dulu memang suka buah semangka. Dan buah semangkanya juga bukan buah merahnya. Aku hanya putihnya aja,” kata dia.

Meskipun menurutnya bagian putih pada semangka belum ada manfaat khusus, namun ia menyukainya karena memberikan kenikmatan tersendiri, “Aku sendiri udah baca jurnal dan lain-lain, sebenarnya belum ada manfaat yang khusus, tapi mungkin lebih kekenikmatan sendiri saat makan.”

“Jadi kalau beli buah semangka, aku kerok atau nggak aku suruh bibi aku beli dan yang merahnya kasih ke siapa. Atau nggak, kalau aku lagi di kosan, nih. Aku kan anak kosan waktu kemarin-kemarin, aku kerok merah-merahnya, aku buang, aku ambil yang putihnya aja. Aku iris yang ijonya, aku makan. Karena lebih suka aja, karena mungkin aku suka timun kali ya, dan lebih kriuk-kriuk,” ujar Aditya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA