Selasa , 21 March 2017, 11:08 WIB

Pesan Toleransi Garin di Moon Cake Story

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Shelbi Asrianti
Kru dan sutradara Moon Cake Story.
Kru dan sutradara Moon Cake Story.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara Garin Nugroho selalu memiliki pesan dan tema berbeda dalam setiap karya yang ia usung. Pada film terbarunya, Moon Cake Story, ia mengemukakan pernyataan sosial menyoal toleransi.

"Ada pesan untuk menyebarkan semangat 'berbeda untuk berbagi', sebuah wujud toleransi yang dikerjakan bukan hanya lewat kata-kata tetapi juga perbuatan," ujar Garin.

Ia menjelaskan, hal tersebut dihadirkan lewat dua tokoh utama yang sangat bertolak belakang. Asih adalah janda beranak satu beretnis Jawa yang tinggal di kampung kumuh, sementara David adalah seorang pengusaha kaya keturunan Tionghoa.

Meski berbeda agama maupun status sosial ekonomi, karakter yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey itu tak ragu berbagi. Lewat kisah kue bulan yang mengharukan,  mereka saling menghormati perbedaan yang pada akhirnya mewarnai kehidupan satu sama lain.

Sineas yang mengarahkan film Cinta dalam Sepotong Roti pada 1990 itu juga menekankan bahwa cinta dalam kehidupan tidak bisa dikotak-kotakkan. Menurutnya, tidak ada satu pun orang yang tidak berhak dicintai, yang ia rumuskan dengan istilah 'semua orang adalah siapa-siapa'.

Film yang bakal tayang mulai 23 Maret 2017 itu juga disebut Garin menyiratkan kritik tentang kesenjangan ekonomi. Pada sebuah adegan, David yang menderita alzheimer seperti berpesan kepada penonton yang sibuk memakmurkan diri untuk tak lupa berbuat kembali untuk masyarakat.

"Jika membangun istana, jangan pernah merusak tanaman di sekitarnya tanpa menanam kembali, atau istana tersebut lambat laun akan hancur seperti istana pasir," tutur Garin yang menempuh pendidikan film di Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).