Jumat , 18 August 2017, 16:56 WIB

Film Wiro Sableng Mulai Proses Produksi Akhir Agustus

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Shelbi Asrianti
Vino Bastian sebagai pemeran utama film Wiro Sableng.
Vino Bastian sebagai pemeran utama film Wiro Sableng.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film layar lebar Wiro Sableng segera memulai proses produksi pada 21 Agustus 2017. Sinema besutan Lifelike Pictures dan Fox International Productions itu akan mengawali proses pengambilan gambar di Jakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat selama lebih dari tiga bulan.

Sheila Timothy selaku produser film mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan dengan maksimal. Sejumlah tahap termasuk storyboarding, video-boarding, pre-visualization, bahkan tes efek visual telah dilakukan beberapa kali.

"Tim sudah siap memulai proses produksi. Kami memakai tagar #siapsableng sebagai penyemangat yang artinya siap menghadapi segala sesuatu dan tidak takut pada tantangan apa pun," kata perempuan yang biasa disapa Lala itu.

Ia masih merahasiakan plot film yang diadaptasi dari serial novel karya almarhum Bastian Tito tersebut. Yang jelas, film bergenre aksi komedi fantasi yang tayang pada 2018 itu dikemas sedemikian rupa agar dapat diterima penonton generasi kekinian sekaligus tetap dicintai generasi terdahulu.

Sutradara Angga Dwimas Sasongko mengatakan, Wiro Sableng adalah film dengan tim produksi terbanyak sepanjang kariernya. Hal tersebut dianggapnya sebagai tantangan untuk bekerja kreatif dengan prinsip saling melengkapi dan mengolah ide-ide yang ada di banyak kepala.

Film Wiro Sableng dibintangi Vino G Bastian, Marsha Timothy, Sherina Munaf, Ruth Marini, Cupink Topan, Marcella Zalianty, Lukman Sardi, Dwi Sasono, Happy Salma, Marcell Siahaan, Andi /Rif, dan masih banyak lagi. Aktor Yayan Ruhian menjadi pemeran sekaligus koreografer adegan laga, bekerja sama dengan pengarah adegan laga Chan Man Ching.

"Menurut saya ini salah satu film penting karena jarang literatur Indonesia yang sifatnya berseri, ditulis sepanjang itu dengan penggemar luar biasa loyal. Membuatnya jadi sinema di era modern jadi tantangan dan juga keseruan tersendiri," tutur Angga.