Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Ferdinand Si Banteng Pencinta Bunga dan Antikekerasan

Senin 11 Desember 2017 00:11 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Yudha Manggala P Putra

Cuplikan film Ferdinand.

Cuplikan film Ferdinand.

Foto: GoodFon

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian orang, Banteng mungkin merupakan hewan yang bertubuh besar dan buas. Namun Ferdinand, dikisahkan memiliki kepribadian yang berlawanan dengan Banteng kebanyakan.

Di saat Banteng lebih menyukai pertarungan baik di arena melawan Matador maupun di kandang dengan sesamanya, Ferdinand justru lebih menyukai aroma bunga dan tak setuju dengan kekerasan. Film bertajuk Ferdinand yang diangkat dari buku The Story of Ferdinand itu mengangkat kisah petualangan Ferdinand (John Cena), yang lebih memilih kabur dari Casa Del Toro, tempat para Banteng disiapkan untuk bertarung di arena.

Ferdinand ingin membuktikan bahwa Banteng bukanlah hewan buas. Mereka hanya dipaksa untuk bertarung atau mati di rumah jagal. Dirinya merasa terpukul ketika ayahnya mati dalam pertarungan melawan Matador paling terkenal di Spanyol, El Primero.

Ayahnya punya mimpi untuk menjadi juara dalam arena melawan Matador. Menurut ayahnya, mimpi semua Banteng adalah menjadi pemenang melawan Matador. Namun, ketika ditanya oleh ayahnya soal mimpi, Ferdinand menjawab, ''Bisakah kita menjadi pemenang tanpa bertarung?'' ucapnya.

Saat melakukan pelarian, Ferdinand ditemukan oleh keluarga peternak, yang memiliki anak bernama Nina. Ferdinand dan Nina tumbuh bersama dalam kebahagiaan semasa kecil.

Saat menjadi dewasa, Ferdinand mulai dibatasi untuk masuk ke desa dan diminta untuk tetap dipeternakan. Namun dirinya tetap memaksa untuk datang ke desa untuk menyaksikan festival bunga yang setiap tahun ia saksikan semasa kecil bersama Nina.

Hanya saja, terjadi sebuah insiden yang membuat Ferdinand menjadi beringas, hingga mengacaukan dan menghancurkan festival tersebut. Ia kemudian ditangkap oleh polisi dan dikembalikan ke Casa Del Toro. Di sinilah petualangannya di mulai.

Di awal film, sang Sutradara Carlos Sandanha mencoba mengenalkan sosok Ferdinand dengan teliti. Saat Ferdinand kecil bersama teman-temannya kerap dirisak karena kebiasaannya menyiram dan mencium bunga.

Tapi Sandanha cukup sabar mengenalkan lebih dari 20 karakter dalam film berdurasi 107 menit itu. Meski di awal sempat membuat film ini terasa lambat. Namun, pondasi yang dibangun di awal ini mampu membuat penonton paham akan plot yang mau diambil oleh Ferdinand. Sehingga tidak kebingungan menikmati film yang berlatar belakang Spanyol tersebut.

Nyanyian dan tarian di pertengahan film pun cukup membuat penonton tertawa. Bagian tersebut tentu untuk menyegarkan penonton di saat harus mengikuti plot yang lamban di awal.

Kisah persahabatan yang cukup kental pun turut menarik simpati. Di saat Lupe, pelatih Banteng, Angus, Banteng dari Skotlandia, Valiante, teman Ferdinand semasa di Casa Del Toro, termasuk Guapo dan Bones, serta tiga landak yaitu Una, Dos, dan Cuatro melarikan diri dari Casa Del Toro.

Meskipun, Sandanha tidak membuat nuansa persahabatan tidak terlalu dramatis dan terkesan 'cengeng'. Ia tetap menonjolkan sosok Ferdinand sebagai Banteng yang tegar, kuat, namun baik hati.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES