Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Jenis Manuskrip dan Tren Perpustakaan Pribadi di Baghdad

Kamis 21 Mar 2019 15:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Perpustakaan Abdul Qadir al-Jailani Baghdad

Perpustakaan Abdul Qadir al-Jailani Baghdad

Foto: dok istimewa
Manuskrip mencakup bahas banyak hal termasuk sains dan agama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli bibliografi yang juga seorang penjual buku, Ibnu Al Nadim, yang hidup pada abad ke-10. Berdasarkan daftar yang dimilikinya, Nadim mengungkapkan, terdapat 4.300 penulis yang tulisannya terdapat di perpustakaan yang ada di Baghdad.

Manuskrip-manuskrip itu mencakup bahasan tentang matematika, astronomi, biologi, kedokteran, fisika, kimia, geografi, filsafat, hukum, dan teologi. Sebagian dari manuskrip tersebut merupakan karya terjemahan dari bahasa Yunani. Sebagian lainnya merupakan karya para cendekiawan Muslim.

Baca Juga

Karya-karya ilmiah tersebut memiliki peran penting dalam mendorong kebangkitan ilmu pengetahuan dan pemikiran di dunia Islam yang pengaruhnya hingga ke Eropa.

Kegiatan lainnya adalah seni, yang terkait dengan manuskrip Alquran yang dibuat oleh Ibnu al-Bawwab. Selain itu, terdapat pula manuskrip yang sifatnya lebih personal. Misalnya, catatan harian seorang sejarawan Baghdad pada abad ke-11 Masehi yang bernama Ibnu al-Banna al-Hanbali.

Menurut Geoffrey Roper, pakar bibliografi internasional dan konsultan perpustakaan, dalam tulisannya, The Fate of Manuscripts in Iraq and Elsewhere, sebagian dari catatan Al-Hanbali ini masih bertahan dan berada di Damaskus, Suriah.

Manuskrip yang berisi hasil pemikiran para cendekiawan Muslim, tak hanya tersimpan di perpustakaan dan sebagai bahan bacaan. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, di Baghdad telah ada tradisi diskusi ilmiah, di antaranya membahas karya-karya seorang ilmuwan.

Sejarawan Youssef Eche mengungkapkan banyak manuskrip tersimpan pula di Bayt al-Hikma. Pada masa selanjutnya, perpustakaan madrasah juga dipenuhi manuskrip ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk di masa kekuasaan Dinasti Seljuk. Di antaranya, di perpustakaan madrasah Nizamiyah dan Mustansiriyah.

Di Baghdad, berkembang pula perpustakaan-perpustakaan pribadi yang mengoleksi karya-karya cendekiawan Muslim ternama. Sayangnya, kumpulan manuskrip itu terusik saat terjadi penaklukan Baghdad oleh Seljuk pada 1059 Masehi. Perpustakaan milik Sabur Ibnu Ardashir hancur.

Padahal, perpustakaan tersebut mengoleksi sebanyak 10 ribu manuskrip dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA