Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Usung Nilai Keberagaman, The Last Barongsai Siap Tayang 26 Januari

Sabtu 21 Jan 2017 12:43 WIB

Red: Hazliansyah

Salah satu adegan di The Last Barongsai

Salah satu adegan di The Last Barongsai

Foto: The Last Barongsai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah menjalani proses yang cukup panjang, film produksi Karnos Film yang mengangkat tema keberagaman di masyarakat. "The Last Barongsai" siap tayang. Film ini akan tayang mulai 26 Januari mendatang.

Rano Karno selaku Executive Producer mengatakan, ide awal cerita film ini didapat saat ia berkunjung ke salah satu daerah di Cikupa. Di sana terdapat satu rumah yang bangunanya sangat menjaga ornamen khas budaya Cina.

"Ada satu rumah di kawasan Tanggerang. Rumah ini masih terdapat kekhasan dari etnis Tionghoa, rumah kayu yang masih original dengan ornamen cinanya, luar biasa," ujar Rano Karno saat Gala Premiere "The Last Barongsai", Jumat (20/1) malam.

Dari situ ia melihat, meski zaman sudah semakin modern dan akulturasi budaya di masyarakat sudah semakin melebur, namun yang namanya budaya leluhur harus tetap dipertahankan.

"Sekarang ini sudah perlahan-lahan kita mulai kehilangan budaya, seperti budaya santun mulai hilang, yang ada amarah saja. Ini bahaya buat kita," ujar Rano.

"The Last Barongsai" bercerita tentang Aguan (Dion Wiyoko) yang dihadapkan dua pilihan sulit. Yakni meneruskan pendidikannya di luar negeri atau menghidupkan kembali perkumpulan barongsai milik ayahnya (Tyo Pakusadewo) yang sudah lama berhenti. Sang ayah enggan melanjutkan akibat trauma dengan kematian istrinya.

"Kalau orang bicara kota Tangerang pasti tahu tentang Cina Benteng. Yang saya bicarakan di sini bukan pada etnisnya, tapi pada budayanya yang hampir 40 persen terdapat budaya Betawi," kata dia.

Sementara Dion Wiyoko mengaku sangat tertarik ketika pertama kali mendapat tawaran bermain di film ini. Tidak hanya mengangkat satu tradisi, tapi unsur kebhinekaan di dalam cerita juga begitu lekat.

"Jadi ini yang membuat gue ngerasa harus ngambil film ini," kata dia.

Ia mencontohkan, meski mengangkat tentang kebudayaan Cina namun hampir sebagian besar yang terlibat dalam film ini bukan dari etnis tersebut.

"Itu saja sudah menunjukkan kebhinekaan. Kalau dari adegan mungkin dari karakter Aguan dan Aziz (Aziz Gagap) yang sudah sahabatan lama walau beda agama. Sapaan dari orang yang non muslim terhadap muslim. Jadi itu memang Indonesia yang seharusnya," ujar Dion.

Selain Dion Wiyoko, Tyo Pakusadewo dan Aziz Gagap, film ini turut dibintangi Vinessa Inez, Furry Citra dan penampilan spesial dari Rano Karno dan Suti Karno.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA