Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Beauty and the Beast, Mengapa Pasangan Manusia-Hewan Membuat Penasaran?

Ahad 16 Apr 2017 17:17 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agus Yulianto

Beauty and The Beast (Ilustrasi)

Beauty and The Beast (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Beauty and the Beast yang telah lama cari dongeng. Namun, baru-baru ini, difilmkan dengan live action dan berhasil menarik jutaan penonton dari semua umur.

Variasi kisah si Cantik dan si Buruk Rupa dimana seorang gadis lugu terkurung di rumah monster telah turun temurun selama ratusan abad bertahan. Ternyata, kisah serupa dimana seorang manusia berpasangan dengan non manusia, juga didapati di berbagai penjuru dunia.

Chair of Folklore and Mythology Program Harvard University, Maria Tatar, mengatakan, Beauty and the Beast yang kini dikenal masyarakat Barat, merupakan cerita rakyat yang ditulis seorang Prancis bernama Jeanne-Marie Leprince de Beaumont pada 1756. Interpretasi de Beaumont ramah anak ini menyebar dan menjadi tren sastra dimana tema-teman dewasa dibahasan untuk audiens muda.

Cerita tersebut mewakili tradisi cerita lisan lokal termasuk India, Ghana, Afrika Selatan, Yunani, Irlandia, Jepang, dan Karibia (Hindia Barat). Dalam cerita-cerita itu, manusia berpasangan dengan berbagai non manusia seperti pangeran monyet, putri kura-kura, pangeran yang disihir menjadi katak, dan putri yang menikahi ular. Variasi ini, menurut Tatar, menunjukkan kisah sejenis Beauty and the Beast tidak berasal dari satu sumber.

"Pikirkan saja mengapa cerita-cerita ini bisa ditemukan di seluruh penjuru dunia. Cerita-cerita ini punya sesuatu yang sangat mendasar yang membuat kita terus menceritakannya," kata Tatar seperti dikutip Live Science, akhir pekan ini.

Nyaris semua cerita serupa Beauty and the Beast dari berbagai belahan dunia berpusat pada tema daya ubah cinta. Kualitas empati dan kesabaran mampu mengubah 'monster' menjadi jinak.

Cerita semacam ini, kata dia, aslinya ditujukan untuk audiens dewasa sehingga pencerita bebas menambahkan aneka unsur. Makin meriah, kata dia, makin bagus karena cerita ini tujuannya untuk membuat para pendengar tetap menaruh minat pada cerita.

Cerita-cerita ini juga sebenarnya membantu pada gadis muda dulu kala untuk bersiap menikahi pria manapun yang datang meminang. "Konsep cinta pada pandangan pertama itu baru. Cerita seperti ini secara tidak langsung memberi tahu para gadis belasan tahun untuk bersiap menikahi pria dewasa berbadan besar dengan rambut di banyak bagian tubuhnya," ujar Tatar.

Cerita-cerita ini merupakan kultur umum di sekitar abad ke 18 di Eropa. Film Beauty and the Beast yang 'dihidupkan' pada adab ke 20 dna abad 21 ke dalam film, serial televisi, maupun animasi meraup pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS.

"Kita semua tahu, cinta tak hanya mengubah satu pasangan, tamu kita semua," kata Tatar. Dengan kata lain, cerita semacam ini punya kaitan dengan kehidupan manusia. Cerita ini bisa mengarah pada aneka tujuan berbeda dan relevan di berbagai tempat dan masa.




BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA