Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Pembajakan Musik Terus Meningkat

Rabu 20 Sep 2017 09:02 WIB

Red: Esthi Maharani

Aplikasi streaming musik

Aplikasi streaming musik

Foto: VOA

REPUBLIKA.CO.ID, Pembajakan musik terus meningkat di seluruh dunia dengan adanya 40 persen penikmat musik yang mengakses tanpa izin, atau naik dari tahun lalu sebesar 35 persen. International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) melaporkan mesin pencari di internet telah mempermudah pembajakan dan mereka meminta pemerintah bertindak.

"Pelanggaran hak cipta masih bertumbuh dan berkembang, dengan metode stream ripping menjadi yang dominan," kata kepala IPPI, Frances Moore dikutip dari AFP.

"Dengan kekayaan musik berlisensi yang telah tersedia bagi penggemar, jenis situs ilegal ini tidak punya tempat yang dapat dibenarkan di dunia musik," katanya. Ia pun menyerukan peraturan yang lebih besar mengenai sektor musik digital.

Berdasarkan survei terhadap konsumen di 13 negara, laporan tersebut menemukan bahwa kebanyakan pendengar musik yang tidak berlisensi menggunakan stream ripping untuk mengakses konten bajakan, yaitu dengan menyimpan atau mengubah file musik streaming menjadi mp3. Sebesar 35 persen pengguna internet menggunakan stream ripping, atau naik dari tahun lalu sebesar 30 persen. Situs streaming memungkinkan pengguna mengubah file yang sedang diputar di platform streaming, seperti Spotify atau YouTube, sehingga dapat diunduh secara permanen.

Persentase pengguna streaming naik menjadi 53 persen untuk pengguna di usia 16-24 tahun, sementara hanya 18 persen dari usia 55-64 tahun yang terlibat dalam hal itu. Laporan tersebut mengatakan bahwa mesin pencari "memainkan peran kunci dalam pelanggaran hak cipta", dengan 54 di antaranya men-download musik tanpa izin menggunakan Google untuk menemukan musik yang mereka ingin bajak.

YouTube-mp3.org, situs rip rip terpopuler di dunia di mana jutaan pengguna mengonversi video YouTube menjadi file audio, ditutup pada awal bulan ini setelah kampanye IFPI. Industri musik semakin agresif dalam menangani pembajakan. Pada 2015, mereka menutup situs populer Grooveshark.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA