Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Adik Pramoedya Apresiasi Bumi Manusia Difilmkan

Jumat 08 Jun 2018 02:14 WIB

Red: Andri Saubani

Novel Bumi Manusia

Novel Bumi Manusia

Foto: Indonesiagoesfrankfurt.net
Mengangkat Bumi Manusia ke layar lebar dinilai sebagai langkah yang berani.

REPUBLIKA.CO.ID,  BLORA -- Soesilo Toer (81), mengapresiasi pembuatan film bersumber dari novel Bumi Manusia karya kakak kandungnya, Pramodya Ananta Toer. Film Bumi Manusia rencananya akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

"Bagi saya pembuatan film dengan mengangkat novel Bumi Manusia merupakan langkah yang berani, sebab tidak mudah menuangkan sebuah novel di dalam film," kata dia di kediamannya di Blora, Kamis (7/6).

Ia memberikan gambaran bisa saja tokoh yang ada di film tidak pas dengan yang digambarkan di dalam novel Bumi Manusia. Akan tetapi, ia mengaku tidak akan mempermasalahkan hasil film Bumi Manusia yang disutradarai Hanung Bramantyo itu nantinya baik atau melenceng dari kondisi yang sesungguhnya dari novel karya kakaknya itu.

"Soal hasil film baik atau buruk nantinya itu urusan lain. Saya melihat Hanung itu seorang pemberani," katanya.

Ia kemudian mengutip kata-kara yang pernah disampaikan Pramodya Ananta Toer bahwa manusia itu harus berani. Menang kalah urusan lain. Cuma orang-orang yang berani yang bisa menguasai 3/4 keadaan.

Begitu pula, ia juga tidak mempermasalahkan kalau Hanung Bramantyo belum pernah menghubungi dan berkunjung ke kediaman asal Pramodya Ananta Toer di Blora, Jawa Tengah. "Saya tidak pernah dihubungi Hanung Bramantyo. Tapi keluarga Pramodya Ananta Toer di Jakarta sudah dihubungi terkait pembuatan film Bumi Manusia," kata dia.

Novel Bumi Manusia yang mengisahkan tokoh utama Minke, Annelis, dan Nyai Ontosoroh sebenarnya menceritakan romantisme kehidupan di bawah cengkeraman penjajah Belanda. Pada usianya yang sudah senja itu, Soesilo Toer mengaku juga menekuni dunia tulis menulis dengan membuat buku, selain melakukan pekerjaan menjadi pemulung sampah di daerahnya.

"Saya sudah menerbitkan 20 buku. Yang belum terbit ada 15 buku," ucapnya.

Di dalam proses membuat buku, Soesilo Toer tidak memanfaatkan mesin ketik komputer atau android, tetapi dengan tulisan tangan yang kemudian diketik ulang anaknya di komputer untuk selanjutnya diproses cetak menjadi buku.

"Buku karya saya ini dicetak di Yogyakarta," ucapnya.

Di Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) di Blora itu, terpajang buku-buku karyanya. Antara lain Pram Dalam Belenggu, Pram Dari Dalam, Dunia Samin, Komponis Kecil, dan Republik Jalan Ketiga.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA