Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Pria Difabel Netra Lintasi Atlantik dengan Balon Udara

Senin 13 Aug 2018 19:21 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Michael Scholes

Michael Scholes

Foto: Bristol Post
Meski tak lagi bisa melihat, Scholes bertekad membantu menerbangkan balon udara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian besar orang, kehilangan penglihatan akan dianggap sebagai akhir dari segalanya. Berbeda halnya dengan Michael Scholes, pria 65 tahun yang kehilangan 85 persen kemampuan melihat sekitar 11 tahun lalu.

Pada 2007, Scholes didiagnosis mengidap kondisi genetika langka bernama Leber's hereditary optic neuropathy (LHON). Dia sangat terpukul karena mengira kehilangan kesempatan melanjutkan profesinya sebagai pilot balon udara.

"Kisahnya cukup dramatis. Awalnya konsultan medis mengatakan saya perlu operasi tetapi ketika didiagnosis kembali, ternyata ada kesalahan pada DNA saya sehingga operasi pun tak ada gunanya," ujar Scholes.

Dia sempat frustrasi karena merasa tidak berdaya dengan kondisi matanya tersebut. Namun, lambat laun Scholes belajar melakukan segala hal sendiri di tengah kebutuhan khususnya, termasuk kembali menjadi pilot balon udara.

Musim panas ini, Scholes akan terbang melintasi Atlantik dari Kanada ke Inggris dengan balon udara. Pria itu tidak sendiri, tetapi bersama tim di mana dia menjadi kopilot mendampingi pilot perempuan Deborah Day.

Meski tidak menjadi pilot utama, Scholes berperan krusial dalam penerbangan itu. Semasa bisa melihat, dia adalah pilot balon udara yang amat berpengalaman, bahkan memecahkan lima rekor durasi penerbangan terlama dan jarak terjauh.

Scholes memulai karier menerbangkan balon udara ketika bertugas di Angkatan Laut Britania Raya. Menariknya, penerbangan Atlantik dengan Day mendatang akan menggalang dana untuk almamaternya yang membutuhkan.

Perjalanan balon udara Scholes mengumpulkan biaya yang didonasikan untuk veteran difabel netra lewat yayasan Blind Veterans UK. Pilot Deborah Day percaya rencana ekspedisi antara lima sampai 10 hari itu akan berjalan lancar.

"Scholes memang tidak bisa mendaratkan balon karena kondisinya, tetapi dia tetap sangat kompeten. Ketika terbang, kami adalah satu tim dan kami bersyukur memiliki petualang hebat sepertinya," kata Day, dikutip dari laman Bristol Post.
   

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA