Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

'Instant Family', Kisah Getir Dalam Cerita Komedi

Sabtu 19 Jan 2019 20:37 WIB

Red: Didi Purwadi

Adegan dalam film 'Istant Family' (ilustrasi)

Adegan dalam film 'Istant Family' (ilustrasi)

Foto: youtube
Film diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sean Anders, jadi orang tua asuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film keluarga bergenre drama komedi berjudul "Instant Family" saat ini tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Film produksi Paramount Pictures ini bisa menjadi pilihan bagi para penikmat sinema untuk mengisi libur akhir pekan.

"Instant Family" diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sean Anders, tentang manis getir menjadi orang tua asuh dari tiga anak adopsi. Dua tokoh utama film ini, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne), diceritakan telah menikah namun tak kunjung dikaruniai anak. Padahal, usia Pete sudah menginjak 36 tahun.

Khawatir bila nantinya mereka baru memiliki anak di usia yang sudah terlalu tua atau bahkan mungkin tidak mempunyai anak sama sekali, Pete sembari bercanda melontarkan ide untuk mengadopsi anak. Tak disangka Ellie menanggapi serius candaan suaminya itu. Keduanya pun sepakat untuk mengadopsi anak.

Pete dan Ellie kemudian mengikuti kelas bimbingan dan persiapan menjadi orang tua asuh yang dimentori oleh Sharon (Tig Notaro) dan Karen (Octavia Spencer). Setelah dirasa siap menjadi orang tua asuh, Pete dan Ellie mulai mencari anak yang cocok untuk diadopsi.

Pilihan mereka jatuh kepada Lizzy (Isabela Moner), gadis remaja berusia 15 tahun, dan dua adiknya yakni Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Ketiganya yang berasal dari Amerika Latin telah ditinggalkan oleh orang tua mereka. Ibunya dipenjara karena kasus narkoba, sementara sang ayah tidak diketahui keberadaannya.

Awalnya, Pete dan Ellie merasa bahwa Lizzy, Juan dan Lita adalah anak-anak yang tepat untuk diadopsi, lantaran ketiganya memperlihatkan sikap yang manis dan baik di awal-awal pertemuan. Masalah mulai timbul ketika masing-masing anak mulai menunjukkan karakter aslinya.

Lizzy ternyata gadis urakan yang sulit diatur dan suka membantah. Sementara Juan memiliki sifat sensitif dan cengeng. Si kecil Lita berperangai keras kepala dan suka marah-marah.

Pete dan Ellie yang semula sangat antusias memiliki anak, justru terjebak pada situasi sulit. Di satu sisi, keduanya frustrasi menghadapi tingkah polah Lizzy, Juan dan Lita. Namun di sisi lain, mereka terlanjur sayang dan tidak ingin ketiganya kembali ke jalan tanpa cinta dan kasih sayang orang tua.

Masalah semakin pelik ketika ibu kandung Lizzy, Juan dan Lita yang baru keluar dari penjara, ingin mengasuh anak-anaknya kembali. Padahal saat itu, hubungan antara Pete dan Ellie dengan ketiga anaknya sudah mulai berangsur membaik.

Lewat film "Instant Family", sang sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa mengadopsi anak tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada banyak problematika yang harus dihadapi oleh para orang tua asuh sebelum mereka akhirnya mampu membangun keluarga yang harmonis.

Akting Mark dan Rose mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Keduanya sukses memancing gelak tawa penonton dalam film yang mengangkat tema cukup serius ini. Di sisi lain, penonton juga tetap mendapat suguhan adegan yang bisa membuat mata berkaca-kaca.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA