Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Bos Amazon Curhat Soal Perceraian dan Isu Perselingkuhan

Jumat 08 Feb 2019 13:19 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nidia Zuraya

Jeff dan MacKenzie Bezos.

Jeff dan MacKenzie Bezos.

Foto: AP
Jeff Bezos mengumumkan perceraiannya pada bulan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pendiri Amazon, Jeff Bezos menuduh pemimpin National Enquirer mencoba memerasnya dengan ancaman menerbitkan foto-foto intim yang disangka telah dikirim Bezos kepada pacarnya. Tuduhan tersebut diterbitkan dalam sebuah posting blog (bit.ly/2WOLuOf) yang ditulis Bezos.

Langkah Bezos ini menjadi babak terbaru yang telah membawa kehidupan pribadi orang terkaya di dunia ini menjadi sorotan. Kontroversi ini juga mendorong Bezos ke pertempuran panas dengan tabloid terkemuka di Amerika Serikat tersebut.

Baca Juga

"Tentu saja saya tidak ingin foto-foto pribadi dipublikasikan, tetapi saya juga tidak akan berpartisipasi dalam praktik pemerasan, serangan politik, dan korupsi yang dilakukan mereka, " tulis Bezos seperti dikutip dari Kantor Berita Reuters, Jumlah (8/2).

Kendati demikian, American Media Inc (AMI), pemilik National Enquirer, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Bulan lalu, Bezos dan istrinya mengumumkan bahwa mereka bercerai setelah 25 tahun menikah. Pada hari yang sama, National Enquirer menggembar-gemborkan kabar perceraian Bezos dengan mempublikasikan dugaan pesan teks antara Bezos dan Lauren Sanchez, seorang mantan reporter televisi yang dikabarkan berkencan dengan Bezos.

Sejak perselingkuhannya, Bezos membuka penyelidikan atas kebocoran yang dipimpin oleh Gavin de Becker, seorang ahli keamanan publik yang juga pernah disewa oleh mantan Presiden AS Ronald Reagan. De Becker kemudian memberi tahu media bahwa kebocoran itu bermotif politik.

Bezos, Amazon, dan surat kabar yang dimilikinya secara pribadi, Washington Post, semuanya menjadi sasaran serangan di Twitter oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Tidak dapat dihindari bahwa orang-orang kuat tertentu yang mengalami liputan berita Washington Post akan salah menyimpulkan bahwa saya adalah musuh mereka," tulis Bezos.

"Presiden Trump adalah salah satu dari orang-orang itu, jelas dengan banyak tweetnya," terang Bezos.

Dalam blognya, Bezos mereproduksi email dari wakil penasihat umum AMI, Jon Fine, kepada seorang pengacara yang mewakili de Becker.  AMI meminta adanya pengakuan publik dari Bezos dan de Becker bahwa mereka tidak memiliki motivasi politik atau dipengaruhi oleh kekuatan politik.

Sebagai imbalan atas pengakuannya, menurut email tersebut, AMI menawarkan untuk tidak mempublikasikan, mendistribusikan, berbagi, atau menggambarkan teks dan foto yang tidak dipublikasikan.

Bezos mengatakan, pernyataan yang AMI usulkan adalah salah dan menggambarkan tawaran itu sebagai pernyataan yang terlalu tinggi.

Tuduhan pemerasan pun menimbulkan pertanyaan, apakah AMI dan kepala eksekutifnya David Pecker telah melanggar perjanjian kerja sama yang dibuat AMI tahun lalu dengan jaksa federal sehubungan dengan pembayaran uang tunai 150 ribu dolar AS yang diberikan kepada Karen McDougal, model Playboy yang mengklaim dia berselingkuh dengan Presiden Donald Trump?

Menurut Kantor Kejaksaan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York pembayaran dilakukan selama pemilihan presiden 2016 untuk mempengaruhi pemilihan. Kesepakatan untuk tidak menuntut, dituntut kepada AMI untuk tidak melakukan kejahatan lain.

"Untuk kasus Bezos, jelas Bezos akan memiliki klaim perdata terhadap AMI jika mereka memilih untuk membawanya, tetapi pertanyaannya adalah apakah itu tindakan kriminal," kata David Berger, mitra litigasi dengan Wilson Sonsini Goodrich & Rosati.

Bezos, yang memiliki kekayaan lebih dari 120 miliar dolar AS, termasuk saham di Amazon, mengatakan di blognya: "Jika dalam posisi saya, saya tidak tahan dengan pemerasan semacam ini, berapa banyak orang yang bisa?"

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA