Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Hit and Run Film yang Kumpulkan Mantan Atlet

Senin 03 Jun 2019 16:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Joe Taslim

Joe Taslim

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Untuk membangun film aksi yang ciamik, Hit and Run menggaet para aktor mantan atlet

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebaran menjadi momen subur rilisnya film-film TanahAir. Salah satu yang akan meramaikan layar perak adalah Hit and Run. Film ini mengandalkan sentuhan aksi dan melibatkan banyak mantan atlet bela diri.

Untuk membangun film aksi yang ciamik, sederet nama-nama besar digaet dalam Hit and Run. Dalam film ini kita akan mendapati atlet dari cabang bela diri seperti Joe Taslim sebagai pemeran utama yang menguasai judo, Yayan Ruhian sebagai penjahat kelas kakap yang menguasai pencak silat, hingga Simone Julia yang menjadi pengawal merupakan mantan atlet Ju-Jitsu.

 

"Tidak sengaja menarik mantan atlet. Syarat dari saya harus punya dasar karena proses pembuatan film hanya dua sampai tiga bulan saja. Jadi tidak bisa dari nol karena bakal susah," ujar sutradara Hit and Run, Ody C.Harahap

Hit and Run menceritakan tentang kehidupan polisi narsis bernama Tegar (Joe). Tegar memiliki acara yang menunjukan aktivitasnya menangkap para penjahat. Salah satu penjahat kuat bernama Coki (Yayan) kabur dan dari penjara dan menjadi kasus yang harus ditangani oleh Tegar.

Dalam pencarian Coki, Tegar dibantu oleh Liow (Candra Liow) dan Jefri (Jefri Nichol). Proses kejar-kejaran ini membawa Tegar bertemu dengan penyanyi dangdut Meisa (Tatjana Saphira) dan membuat cerita tidak hanya dibalut dengan aksi namun juga berbalut komedi dan drama.

Film yang akan tayang 4 Juni di bioskop-bioskop Indonesia ini memang cukup baik dalam menampilkan adegan laga yang memperlihatkan kesadisan. Kombinasi antara kemampuan pemain yang sudah berpengalaman, sudut pengambilan gambar, serta efek-efek yang tepat mampu menciptakan aksi yang meyakinkan.

Terlebih ladegan tarung yang dibawakan oleh para pemain pun beragam. Ody membebaskan pemain untuk menggunakan gaya bertarung dari cabang seni bela diri yang digeluti oleh masing-masing pemain.

"Mereka sudah punya dasar jadi terdorong untuk dipakai sebagai warna koreografi. Supaya tidak membosankan koreonya gitu-gitu aja karena ada teknik lain yang bisa ditampilkan secara visual," ujar Ody. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA