Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Studi Ungkap 40 Persen Wanita Alami Depresi Pascamelahirkan

Senin 01 Jul 2019 14:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Ibu baru melahirkan/ilustrasi

Ibu baru melahirkan/ilustrasi

Foto: frontpagemag.com
Bagi wanita yang baru melahirkan, tiga bulan pertama bukan masa yang mudah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Risiko melahirkan begitu besar dan itu tidak berhenti sampai bayi telah dilahirkan saja. Studi mengungkap sebanyak 40 persen wanita mengalami depresi setelah melakukan persalinan.

Bagi perempuan yang baru atau pernah melahirkan, tiga bulan pertama menjadi rentang waktu yang tidak mudah. Sebuah survei oleh Orlando Health mengonfirmasi 40 persen wanita mengalami kecemasan dan depresi pada pekan-pekan awal setelah persalinan.

Hasil tersebut didapatkan dari survei yang melibatkan 1.229 perempuan. Survei itu juga menemukan 63 persen ibu baru peduli dengan kesejahteraan mereka sama seperti mereka peduli tentang bayi.

Akan tetapi, sebanyak 37 persen dari perempuan berusia 18 hingga 34 tahun memprioritaskan kesehatan bayi ketimbang diri sendiri. Wanita-wanita ini tidak mencari nasihat medis karena malu. Sepertiga dari mereka mengatakan malu pada tubuh sendiri setelah melahirkan.

Dokter kandungan di Orlando Health Winnie Palmer Hospital for Women and Babies, Megan Gray, mengatakan perlu lebih banyak wanita tahu tentang tantangan trimester keempat. Periode itu adalah waktu di mana bayi yang baru lahir belajar beradaptasi dengan dunia luar setelah tiga bulan pertama lahir.

Ibu perlu mencari bantuan dan tidak ada masalah untuk melakukannya. "Beberapa bulan pertama setelah Anda melahirkan adalah pengalaman belajar. Jika Anda merasa kewalahan, Anda tidak sendirian," kata Gray dikutip dari AsiaOne.

Gray menyatakan penting bagi wanita untuk menjaga diri mereka sendiri setelah persalinan. Bahkan, perhatian ini perlu dilakukan ketika itu tampak mustahil dengan kondisi bayi yang membutuhkan banyak perhatian.

Psikolog yang berbasis di California, Katayune Kaeni, mengatakan menjadi ibu membutuhkan perubahan dan transisi baik emosional dan fisik. Namun, sama pentingnya bagi ibu untuk memeriksa diri mereka sendiri.

"Ada yang butuh istirahat dari bayi mereka, ada yang tidak. Semua itu baik-baik saja," ujar psikolog dengan sertifikat kesehatan mental perinatal itu.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA