Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Ini Pengalaman Kuliner Unik Chelsea Islan di Nagoya

Rabu 10 Jul 2019 16:32 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih

Chelsea Islan

Chelsea Islan

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Di Nagoya, Chelsea Islan menyempatkan diri menyantap hitsumabushi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berwisata ke suatu tempat belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi makanan khas. Hal inilah yang dilakukan Chelsea Islan saat berkunjung ke Nagoya Jepang beberapa bulan yang lalu. Di Nagoya, ia menyempatkan diri mencicipi makanan lokal Nagoya.

Ada tiga makanan khas utama Nagoya yang dicoba oleh Chelsea. Ketiga makanan itu adalah hitsumabushi (nasi ikan belut), tebasaki (ayam goreng khas Nagoya), dan hida beef. Dilansir situs Hida Gyu Japan, hida beef adalah nama khusus yang diberikan untuk daging sapi dari sapi Jepang berambut hitam. Sapi ini dipelihara di Prefektur Gifu, Nagoya selama setidaknya 14 bulan.

Chelsea mengaku tidak tahu apa itu hitsumabushi sebelum berangkat ke Nagoya. Ini menjadi pengalaman unik bagi Chelsea di Nagoya.

“Hitsumabushi favorit aku. Itu nasi putih dicampur belut bakar, ada kecap manisnya juga,” ujar Chelsea dalam acara konferensi pers #AdaApaDenganNagoya Travelling Nagoya with Chelsea Islan di Jakarta, Selasa (9/7).

Selain itu, kata Chelsea, ada tata cara tersendiri saat menyantap tebasaki atau ayam goreng khas Nagoya. Jadi, tidak asal makan saja.

“Walau cuma kayak chicken wings, itu ada cara makannya. Ada harus makan bagian kirinya dulu, terus kanannya. Ada cara-cara untuk patahin tulang ayamnya,” kata perempuan kelahiran 1995 ini.

Chelsea juga menceritakan bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang Nagoya saat membeli makanan. Ia mengungkapkan di warga Nagoya memang masih sulit untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris sebab mereka berbahasa Jepang.

Biasanya ia menggunakan mesin penerjemah sebelum berbicara. Terkadang ia menuliskan huruf-huruf bahasa Jepang untuk berkomunikasi agar orang lain mengerti.

“Jadi benar-benar harus mengikuti karena budaya mereka masih kuat sekali di mana hanya mau bahasa mereka. Mungkin itu maunya mereka. Sebagai turis kita belajar budaya mereka,” ujarnya.

Indonesia saat ini sedang mendapat perhatian dari para pelaku bisnis pariwisata di Jepang. Angka pertumbuhan wisatawan Indonesia ke Negeri Sakura menunjukkan rata-rata lebih dari 20 persen. Jumlah wisatawan Indonesia yang mengunjungi Jepang pada 2018 ada sebanyak 400 ribu dari 260 juta orang.

“Sebagai pintu gerbang wilayah Nagoya Jepang, kami Centrair ingin memperkenalkan rute wisata baru Jepang pada wisatawan Indonesia. Kali ini kami bekerja sama dengan Chelsea Islan dengan mengangkat slogan #AdaApaDenganNagoya,” ujar Felix Hartanto dari Central Japan International Airport.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA