Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Hikmah (Cerpen)

Selasa 12 Mar 2019 08:47 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Hikmah

Hikmah

Foto: Rendra Purnama/Republika
Demi lulus CPNS, Tarno rela mengikuti anjuran orang pintar untuk mengambil kain kafan

REPUBLIKA.CO.ID, Cerpen Oleh: Risda Nur Widia

Sudah empat tahun Tarno bekerja sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah negeri. Selama itu juga pemuda tersebut hidup dengan gajinya yang kecil untuk melengkapi kebutuhan pokok keluarganya. Memang untuk urusan menikah, Tarno baru melaluinya selama dua tahun terakhir. Namun, ia sudah lelah hidup dalam kekurangan karena gajinya yang tak mencukupi.

Bisa dibayangkan, selama sebulan, ia hanya digaji tiga ratus ribu rupiah dengan kebutuhan pokok yang banyak. Padahal, pekerjaannya sama beratnya seperti guru-guru lainnya yang sudah tetap di sekolah. Ia harus berangkat pagi, pulang sore, merekap nilai, dan merangkap menjadi guru bantu lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.

Memang mau tidak mau Tarno harus bekerja tambahan di luar. Selain menjadi guru, Tarno juga bekerja sebagai pembimbing lembaga belajar. Dari pekerjaan itu, Tarno mendapatkan gaji yang lumayan untuk menutupi kebutuhan pokok. Tujuh ratus ribu setiap bulan.

Sayangnya, gajinya itu belum cukup juga. Akhirnya ia dan istrinya membuka usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan secara online. Hasil jualan secara online itu lumayan menambah penghasilannya. Namun, usaha jualan yang dilakukan Tarno dan istrinya ini tidak bisa dijagakan setiap bulannya karena tidak tetap. Makanya, jika kini Tarno tampak tua lebih lima tahun daripada usiannya, hal itu adalah wajar. Tarno sudah bekerja keras bagaikan kuda.

Hidup yang berliku dihadapi oleh Tarno sebagai guru honor dan pedagang serabutan di dunia maya. Rasanya, apabila mengingat semua itu, Tarno bosan dan ingin mengakhirinya.

Sialnya, ia tidak tahu cara mengakhiri hidupnya yang begitu-begitu saja. Tarno hanya bisa menjalaninya dengan berharap kalau suatu saat hidupnya akan berubah. Begitulah. Dan, seakan apa yang diharapkan oleh Tarno didengar Tuhan, beberapa hari kemudian dirinya mendapati kabar kalau dalam dua hari lagi pemerintah akan membuka lowongan pegawai negeri sipil. Pemerintah memastikan pula akan menerima kuota pegawai yang banyak. Mendengar itu lekas membuat Tarno—dan beberapa rekan guru honor lainnya—bahagia.

“Ini bukan hoax kan?” tanya Tarno. “Nanti hoax kayak yang sudah-sudah.”

“Tidak kok, ini benar! Saya dapat beritanya dari koran ini,” rekannya itu menunjukkan bukti berita di koran mengenai tes rekrutmen pegawai negeri.

“Peluang ini harus kita manfaatkan. Aku bosan memiliki gaji rendah.”

Tarno melirik ke arah temannya yang mengeluh tersebut. Tarno juga di dalam hati mengamini apa yang dikatakan temannya. Tarno benar-benar sudah bosan menjadi buruh dengan bayaran kecil.

Ia ingin mendapatkan jenjang karier dan gaji yang lebih baik. Ia ingin menjadi salah satu pegawai negeri tetap dengan bayaran tinggi. Tarno pun akhirnya ikut terobsesi dengan cita-cita hidup lebih baik sebagai pegawai negeri.

Tarno menjadi sangat antusias saat menyambut pendaftaran tes pegawai negeri itu. Sampai-sampai, demi memotivasi diri, ia membawa pulang kliping koran itu dan menempelkannya di dinding rumahnya.

Istrinya yang melihat gelagat Tarno menjadi penasaran. Wanita itu mendekat ke arah suaminya yang baru pulang. Istrinya lekas sibuk membaca kliping koran tersebut. Hingga kemudian wanita itu sedikit terlonjak karena mendapatkan kabar baik itu.

“Kamu harus mencobanya, Mas!” kata istrinya. “Kamu harus diterima agar hidup kita berubah lebih baik.”

“Betul, Dek!” jawab Tarno optimistis. “Aku harus diterima. Aku sudah bosan miskin.”

Dua hari kemudian setelah menempelkan kliping koran di dinding, pemerintah lekas mengabarkan rekrutmen pegawai negeri tersebut. Melalui perwakilannya —yang Tarno lihat di televisi— pemerintah membuka pendaftaran bagi ribuan pegawai untuk diangkat sebagai PNS.

Tarno pun tanpa menunda waktu cepat mengumpulkan persyaratan dan mendaftar dengan semangat. Namun, ketika ia tahu ternyata saingannya begitu banyak—bahkan hingga ribuan—Tarno mulai ragu. Tarno pesimistis dengan peluang dirinya: Apakah bisa diterima sebagai pegawai atau tidak?

***

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA