Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Angel Has Fallen, Kisah Krisis Kepercayaan di AS

Jumat 23 Aug 2019 08:54 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Morgan Freeman dalam Angel Has Fallen

Morgan Freeman dalam Angel Has Fallen

Foto: Lionsgate
Angel Has Fallen telah tayang di bioskop sejak 21 Agustus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Upaya pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat Allan Trumbull (Morgan Freeman) memicu krisis kepercayaan di seluruh negeri. Sosok yang paling disoroti adalah anggota pasukan pengamanan presiden (paspampres) Mike Banning (Gerard Butler).

Banning menjadi satu-satunya personel paspampres yang selamat saat terjadinya serangan misterius terhadap presiden di sebuah danau. Agen FBI menetapkan Banning sebagai tersangka, sementara sang presiden terbaring koma tak berdaya.

FBI menjumpai kiriman uang dalam jumlah besar pada rekening Banning, juga sejumlah bukti penguat yang mengarah pada tuduhan tersangka. Banning merasa difitnah dan berusaha membuktikan kebenaran dengan segala cara.

Kisah yang termuat dalam film Angel Has Fallen itu sudah bisa disimak di bioskop Indonesia mulai 21 Agustus 2019. Aksi Banning anggota paspampres andalan AS sangat menegangkan dan memacu adrenalin.

Sejak awal, sinema berdurasi 121 menit itu langsung menyajikan aksi laga genting yang memojokkan Banning. Selang beberapa menit, penonton mungkin terkecoh dengan adegan tersebut sambil memuji kebolehan sutradara Ric Roman Waugh mengemas visual film.

Secara perlahan, penonton diajak mengenal Banning yang berpendirian kuat dan tertutup. Dia tipikal lelaki alfa yang mampu memutuskan strategi dalam hitungan detik, sekaligus sangat sayang pada keluarga.

Konflik pun kian menguat, mengerucut pada hal yang tidak terduga sebelumnya. Apabila penonton cermat menyimak, cukup banyak dialog yang menjadi isyarat mengenai sikap tokoh tertentu atau jalannya plot hingga akhir film.

Selain petualangan penuh laga sang paspampres, Angel Has Fallen menyiratkan pula pentingnya keluarga. Tersemat pula sejumlah wawasan penting soal paspampres dan hal-hal taktikal. Akan tetapi, tetap ada celah kekurangan di beberapa bagian.

Tidak sedikit adegan pembunuhan dan kerusakan masif yang berlebihan hingga terkesan mustahil. Aksi satu orang yang bisa mengalahkan sekompi pasukan juga seperti kegawatan tidak nyata, sangat khas dalam film-film laga AS.

Per Kamis (22/8), laman ulasan film Rotten Tomatoes hanya memberikan penilaian 50 persen alias kurang segar. Bagaimanapun, penyuka laga dan thriller yang penasaran bisa membuktikannya sendiri dengan menonton di bioskop.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA