Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Penelitian Ini Bantah Narasi Gawai Sebabkan Masalah Mental

Senin 02 Sep 2019 06:00 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Andri Saubani

Ilustrasi Wanita berjilbab/wanita main gadget. (Republika/Darmawan)

Ilustrasi Wanita berjilbab/wanita main gadget. (Republika/Darmawan)

Foto: Republika/ Darmawan
Banyak orang tua khawatir anaknya habiskan sebagian besar waktu bermain gawai.

REPUBLIKA.CO.ID, GREENSBORO -- Anak-anak muda saat ini tumbuh dalam dunia digital. Jumlah jam yang mereka habiskan untuk gawai membuat banyak orang tua khawatir.

Ada narasi populer di masyarakat, bahwa gawai dapat menghancurkan generasi berikutnya, menyebabkan lonjakan depresi remaja, kecemasan, dan bunuh diri. Namun terlepas dari semua itu, hampir tidak ada bukti kuat tentang waktu layar digital menyebabkan masalah kesehatan mental pada remaja.

Kenyataannya adalah, anak-anak dan remaja tidak akan berhenti menggunakan media sosial dalam waktu dekat. Sebuah studi baru menunjukkan mungkin mereka tidak perlu berhenti. Melalui pelacakan penggunaan smartphone pada remaja Amerika, para peneliti tidak menemukan peningkatan waktu layar tidak terkait dengan kesehatan mental yang buruk.

Dalam beberapa kasus penggunaan teknologi sebenarnya mengurangi perasaan khawatir dan gejala depresi di antara peserta. Psikolog University of North Carolina, Michaeline Jensen  dan rekan-rekannya mensurvei lebih dari dua ribu berusia antara sembilan dan 15 tahun di sekolah negeri yang beragam secara ekonomi dan ras di North Carolina.

Para siswa ditanya soal gejala kesehatan mental mereka tiga kali sehari. Pada akhir setiap hari, mereka melaporkan penggunaan teknologi tersebut. Setahun kemudian, sub sampel dari hampir 400 peserta yang menggunakan ponsel cerdas secara intensif dilacak oleh para peneliti selama beberapa kali sehari selama dua pekan.

“Kami menemukan sedikit bukti terkait hubungan antara penggunaan teknologi digital oleh remaja dan gejala kesehatan mental,” ujar Jensen, seperti yang dilansir dari Science Alert, Ahad (1/9).

Penulis bahkan menemukan beberapa manfaat penggunaan ponsel. Generasi muda yang mengirim pesan singkat lebih banyak, misalnya, melaporkan tingkat depresi yang lebih rendah.

“Di sini, sebagai gantinya, kita melihat remaja menghabiskan waktu membuat konten mereka sendiri dan mungkin malah menikmati kesehatan mental yang lebih baik,” katanya.

Pada tahap ini, terlalu dini mengatakan bagaimana teknologi berdampak pada generasi baru dan kesehatan mental. Kunci untuk memahami peran teknologi dalam kesehatan mental bisa terletak pada pemahaman bagaimana teknologi itu digunakan, bukan seberapa sering dipakai.

Anak-anak sekarang semakin bersosialisasi secara online dan menjaga mereka tetap offline dapat mengisolasi mereka dari teman sebayanya. Di sisi lain, pengguliran atau jam menonton video tanpa tujuan mungkin bukan hal  buruk untuk dibatasi, terutama jika ada pekerjaan sekolah yang perlu diselesaikan.

Para penulis menyarankan mulai sekarang, studi disarankan lebih fokus bagaimana orang tua bsia mendidik dan mendukung anak-anak muda yang tumbuh di era digital. “Mungkin sudah waktunya orang dewasa berhenti berdebat apakah ponsel pintar dan media sosial baik atu buruk bagi kesehatan mental remaja dan mendukung mereka baik dalam kehidupan offline dan online,” kata psikolog Candice Odgers.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA