Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Kegigihan Habibie Mewujudkan Industri Dirgantara Indonesia

Kamis 12 Sep 2019 04:16 WIB

Rep: wilda fizriyani, Zuli Istiqomah, Muhammad Iqbal/ Red: Friska Yolanda

Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie memberikan ketengan kepada wartawan saat konferensi pers kampanye galangan dukungan pesawat R80 di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Kamis (28/9).

Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie memberikan ketengan kepada wartawan saat konferensi pers kampanye galangan dukungan pesawat R80 di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Kamis (28/9).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Penciptaan pesawat bukan tujuan utama dari Habibie.

REPUBLIKA.CO.ID, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Presiden Ketiga RI, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng wafat pada Rabu, 11 September 2019. Untuk itu, Republika.co.id menurunkan kembali edisi khusus "80 Tahun BJ Habibie" yang sudah ditayangkan Koran Republika ketika beliau berulang tahun ke-80. Semoga beliau diberikan tempat terbaik di sisi Allah subhana wata'ala dan diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala kesalahan dan dosanya. Allahhummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu anhu...

JAKARTA -- Industri dirgantara Indonesia dan Bacharuddin Jusuf Habibie ibarat setali tiga uang. Keduanya saling terkait erat satu sama lain. Semua bermula pada medio 1950-an tatkala Habibie memutuskan untuk melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat.

Pada 1960, Habibie menerima gelar diplom ingenieur. Kemudian, lima tahun berselang, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, ini menerima gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Tidak hanya itu, Habibie juga pernah bekerja di Messerschmitt-Boelkow-Blohm, salah satu perusahaan penerbangan terkemuka Jerman yang berpusat di Hamburg.

Puncak kariernya adalah Habibie menjabat sebagai wakil presiden perusahaan di bidang teknologi. Namun, semua pencapaian tersebut tidak membuat Habibie jemawa dan ingin berlama-lama di negeri orang. "Saya mau pulang. Saya mau buat pesawat terbang untuk bangsa ini," ujar Habibie dalam wawancara khusus dengan Republika di The Habibie & Ainun Library, Jakarta, Ahad (19/6).

photo
FOTO DOKUMENTASI. Menteri Negara Riset dan Teknologi Prof.Dr.Ing B.J. Habibie mengatakan kepada tamunya Menteri Perdagangan dan Industri Finlandia Esko Ollila, pesawat Helikopter dan pesawat CN235 hasil produksi pabrik Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dikerjakan putra-putri Indonesia dalam suatu pertemuan Rabu pagi di Gedung BPP Teknologi Jakarta. dalam pertemuan itu Menteri Ollila dan rombongan disertai Duta Besar Finlandia di Jakarta (26/1/1983).

Pada 1973, Habibie kembali ke Tanah Air. Pada masa-masa awal, upaya untuk membuat pesawat terbang tidak mudah. Tak banyak sumber daya manusia (SDM) mumpuni yang tersedia. Beberapa persona yang bekerja sedari awal dengan Habibie, antara lain, Rahardi Ramelan, Sutadi Suparlan, hingga Munaf Gayo.

"Saya pun mulai merekayasa industri strategis pakai uang halal dari Pertamina. Di sana ada divisi advance teknologi dan teknologi penerbangan," ujarnya. Kebutuhan Habibie dari sisi finansial nyaris tidak ada masalah lantaran harga minyak dunia kala itu begitu tinggi. 

Pada 1976, Presiden Soeharto meresmikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dengan Habibie sebagai presiden direktur. Tak lama berselang, Habibie ditunjuk sebagai menteri negara riset dan teknologi pada 1978. Kemudian pada 11 Oktober 1985, PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN. Setelah melalui kerja keras yang panjang, sejarah pun tercipta pada 10 Agustus 1995.

Kala itu, pesawat N-250 buah karya anak bangsa meluncur pertama kali ke angkasa. Seturut peluncurannya, berbagai uji terbang pun dilakukan demi memperoleh sertifikat internasional. Namun, semua sirna lantaran krisis moneter 1997-1998.

"Bagaimana saya rasanya sebagai manusia," ujar Habibie dengan nada tinggi. Selepas terdiam sejenak, Habibie mengatakan, kegagalan itu tidak membuatnya patah arang. "Sekarang saya buat R80," katanya. 

photo
Pegunjung melihat pesawat N250 pada perayaan HUT PT Dirgantara Indonesia ke-43 di Kantor Pusat PT Dirgantara Indonesia, Kota Bandung, Sabtu (24/8).

Meskipun demikian, Habibie mengutarakan kekecewaan kepada pemerintah. Sebab, tidak ada satu peser pun bantuan dari pemerintah. "Saya tidak bisa mengembangkan lebih dari ini karena saya butuh lebih banyak investasi," ujarnya.

Apa alasan pemerintah? Habibie tidak memahaminya. "Why? Gak ada market? Itu buka saja matamu. Gak mampu? Omong kosong," kata Habibie penuh amarah. Berbagai masalah yang mendera tetap membuat Habibie tegar lantaran Ibu Ainun menenangkan dengan berkata agar Habibie tetap sabar. 

"Membangun Indonesia banyak caranya. Sekarang, ibu (Ainun) hanya dalam hati saya. It's okay," ujar Habibie.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso menilai terhentinya kiprah IPTN kala itu tak lepas dari intervensi asing. "Banyak yang tidak suka dengan peluang Indonesia membuat pesawat. Ditambah kondisi keuangan Indonesia kala itu tidak mendukung hingga oleh IMF diminta mencabut subsidi untuk IPTN mengembangkan pesawat N-250," katanya kepada Republika. Kondisi tersebut membuat IPTN harus memecat hampir sebagian besar karyawannya.

photo
Bj Habibie dengan almarhum istrinya saat masih hidup, Ainun Habibie

Industri pesawat terbang yang tadinya mulai 'lari' harus terhenti. Pria yang lahir pada 25 Juni 1936 itu pun diangkat menjadi wakil presiden Indonesia. Sejak saat itu, ia resmi melepas jabatannya di PTDI untuk memimpin Tanah Air.

Budi mengatakan, sebenarnya impian Habibie sederhana. Habibie hanya ingin Indonesia mandiri dalam industri penerbangan. "Itu yang Pak Habibie katakan, kita enggak akan bikin pesawat yang terbang ke Eropa atau ke mana. Biarlah orang-orang yang bikin. Tapi, di internal kita cari yang cocok untuk kita," ujarnya menirukan pernyataan Habibie yang selalu diingatnya.

Indonesia dengan bentang geografis nan kaya dengan pulau dinilai perlu menguasai dua bidang, yakni kelautan dan penerbangan. Cita-cita Habibie ini sama dengan visi Bung Karno, proklamator kemerdekaan RI. Sayangnya, ujar Budi, tak semua menerima cita-cita Habibie.

Pandangannya yang jauh ke depan tidak dipercaya. Padahal, apa yang diinginkan beliau merupakan realitas kebutuhan saat ini. "Apa yang dicita-citakan dulu yang semua orang bilang itu mimpi itu menjadi realitas sekarang. Seperti mencanangkan N250 kalau sekarang sekelas ATR yang banyak digunakan di Indonesia," katanya.

Indonesia pintar

Kecerdasan Habibie memang tidak bisa disangkal lagi. Berbagai prestasi telah dicapai di dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah menciptakan pesawat N-250 bersama koleganya di IPTN. 

Pesawat tersebut untuk pertama kalinya berhasil terbang pada 10 Agustus 1995 di hadapan Presiden Soeharto. Ketika itu, Habibie menjabat sebagai menteri negara riset dan teknologi. Dewan Pengurus The Habibie Center, Andi Makmur Makka, menceritakan fokus utama BJ Habibie terhadap bangsa Indonesia sebenarnya bukan menciptakan pesawat.

photo
BJ Habibie (Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika)

"Pesawat hanya kendaraan untuk membuat orang Indonesia pintar," ujar alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini. Obsesi Habibie justru pada bagaimana caranya membangun putra-putri Indonesia menjadi sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Semasa Habibie menjabat sebagai menristek, upaya-upaya Habibie mambangun anak-anak bangsa terlihat jelas.

Program-programnya lebih memperjuangkan agar lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan sarjana bisa memperoleh beasiswa pendidikan. Bahkan, beasiswa ini juga diperuntukkan bagi para staf kementerian ataupun lembaga yang memiliki keinginan kuat untuk belajar. Agar bisa mencapai SDM berkualitas, Habibie tentu tidak tanggung-tanggung dalam memberikan beasiswa.

Semua orang yang terpilih dari seleksi ketat dan transparan dikirimkan ke luar negeri. Eropa dan Amerika Serikat merupakan destinasi para penerima beasiswa tersebut. Mereka akan dikirimkan ke sejumlah perguruan tinggi ternama dan berkualitas di dunia.

Seperti dikutip dari "Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie: Dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito" pada dekade 1980-an, jumlah insinyur di Indonesia yang berpendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sangat minim. Apalagi, jika dibandingkan negara-negara Asia lainnya yang saat itu tengah giat membangun, misal Korea Selatan, India, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

photo
FOTO DOKUMENTASI. Presiden ke-3 RI BJ Habibie menyampaikan pidato kepemimpinan dalam acara Supermentor-6: Leaders, Jakarta, Minggu (17/5/2015) malam.

Karena kondisi demikian, Habibie pun berupaya melakukan terobosan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM Indonesia. Upaya ini juga bisa membantu memajukan kinerja di Ristek, BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, dan BUMNIS. Sebab, secara mayoritas pegawai di lembaga-lembaga tersebut yang memperoleh kebijakan beasiswa luar negeri itu. 

Makka menambahkan, program yang baru diterapkan pertama kali di Indonesia ini mampu memberikan 3.000-an penerima beasiswa hingga 1997. "Dulu di Indonesia belum ada yang lakukan itu. Setelah itu, baru muncul beasiswa lainnya," katanya. Segala usaha ini dilakukan Habibie demi menghasilkan masyarakat cerdas, berkualitas, dan kompatibel.

Makka juga mencontohkan bagaimana kondisi SDM di Indonesia saat itu. "Di era 1990-an, contohnya kalau mau buat pesawat biasanya kita iklankan kebutuhan sejumlah tenaga ahli. Namun, saat itu ternyata  tidak ada orang daftar yang sesuai kualifikasi yang diinginkan," ujarnya. "Ini beda dengan di luar negeri. Di sana, saat ada kebutuhan tenaga ahli untuk bangun pesawat langsung banyak responsnya.  Karena itu, Bapak (Habibie-Red) mau gak mau harus melakukan upaya terobosan waktu itu," katanya.

Habibie memandang, kata Makka, membuat SDM unggul yang memiliki daya saing dengan negara maju adalah hal utama. Untuk menghasilkan inovasi tidak bisa sekadar wacana. Akan sangat mustahil sebab mereka tidak punya dasar keunggulan untuk berinovasi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA