Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Sekali Lagi, Jangan Ajak Anak Nonton Joker

Sabtu 05 Oct 2019 08:30 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Film Joker.

Film Joker.

Foto: Warner Bros via AP
Film Joker yang telah tayang di Indonesia sejak 2 Oktober tak layak ditonton anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ingin nonton Joker? Pastikan si kecil tak di ajak serta ya!

Seorang ibu dua anak yang telah menyaksikan Joker, Widya Saku mengatakan, kisah Joker terlalu kelam untuk pemirsa cilik. Ia menonton Joker di hari pertama pemutarannya di Indonesia pada Rabu (2/9) lalu.

"Selesai menonton, saya dan suami merasa agak terpengaruh dengan ceritanya. Jadi berasa psycho juga," ujar Widya yang sedikit tercenung saat berbincang dengan Republika.co.id pada Jumat malam.

Penonton lainnya, Andri Saubani, juga sependapat. Ia menilai cerita Joker terlalu muram hingga tak cocok buat anak.

"Saya saja sempat ikut depresi ketika melihat salah satu adegan. Abis itu langsung istighfar," ungkapnya seraya tertawa miris.

Tanpa memberikan spoiler, Andri yang menonton di hari pertama Joker diputar mengingatkan para orang tua, Joker bukanlah film Batman. Ia mengatakan, orang tua harus tahu itu agar tak sampai membawa anaknya menyaksikan kisah tokoh penjahat dari jagat DC Comic tersebut.

Andri memuji Joaquin Phoenix yang sangat sempurna memainkan sosok Joker. Ia mengatakan, Phoenix layak dapat Oscar atas perannya itu.

"Masterpiece-lah Joker ini. Joaquin Phoenix aktingnya gila, Heath Ledger lewat," komentarnya membandingkan kekuatan akting Phoenix dengan pemeran Joker di The Dark Knight.

Baca Juga

     Suasana hari pertama pemutaran film Joker di Indonesia, Jakarta, Rabu (2/9). Dok Andri Saubani/Republika

 

Tak seperti film-film arahan Todd Phillips lainnya, yaitu tiga film The Hangover dan Due Date yang mengundang tawa, Joker memang memiliki nuansa yang gelap sekaligus "mengganggu". Tak ada tawa yang bisa tercipta ketika menonton film yang mendapat penghargaan Golden Lion Award di Festival Film Venice itu.

Adegan-adegan kebrutalan yang dikemas secara realis membuat Joker tak akan nyaman untuk dinikmati anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun. Phillips membawa kesuraman kehidupan Joker ke level yang jauh lebih tinggi, sangat gelap dan cenderung menakutkan.

Dalam Joker, Phoenix memerankan Arthur Fleck, seorang pria berprofesi komedian dan badut yang mengidap gangguan mental. Arthur yang tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen reyot memiliki hidup yang kelam karena tuntutan orang-orang yang memintanya untuk terus lucu.

photo
Joaquin Phoenix dalam film Joker.

Tekanan demi tekanan membuatnya putus asa. Tak jarang, Arthur merasa harus mengakhiri hidupnya.

Beberapa adegan yang mencerminkan keputusasaan, kebrutalan, dan kekerasan ditampilkan secara gamblang oleh Phillips di film ini. Phillips juga tak ragu menampilkan adegan-adegan kekerasan yang menggunakan benda tajam atau senjata secara terang-terangan.

Phoenix benar-benar membuat Joker terasa begitu hidup dan nyata. Untuk memperkuat karakter Joker, Phoenix sampai mengurangi bobot tubuhnya hingga lebih dari 20 kilogram selama proses syuting film ini. Alhasil, perawakannya tampak optimal untuk menggambarkan kegusaran hidup Arthur.

Penjiwaan Phoenix dalam membawakan peran Arthur sangat nyata dan seperti 'mengancam'. Phoenix juga mampu memberikan ekspresi sedih yang mengesankan kepiluan yang mendalam di dalam tawa-tawa Arthur.

Selain itu, kondisi kota Gotham juga digambarkan sebagai kota yang jauh dari keberadaban. Warga kota Gotham digambarkan tak ramah satu sama lain, termasuk kepada Arthur.

Pelecehan juga dialami oleh warga perempuan di kota Gotham. Perundungan oleh anak-anak remaja, bahkan orang-orang dewasa kepada Arthur juga ditampilkan dalam film oleh Phillips.

Adegan-adegan yang gamblang ditampilkan Phillips ini membuat Joker di AS diganjar rating 'R' yang berarti "Restricted" alias terbatas. Artinya, film ini ditujukan oleh pemirsa di atas 17 tahun.

Tak cukup sampai di situ, musik latar Joker yang dikemas Hildur Gudnadottir semakin membuat nuansa film menjadi semakin gelap. Alunan cello mendominasi, menciptakan perasaan yang semakin tak mengenakkan.

Pendalaman karakter yang didukung oleh suasana latar tempat dan suara yang mengganggu, tentu membuat suasana dalam bioskop akan semakin gelap dan membuat gelisah. Sebaiknya, jangan menonton sendirian. Apalagi, kalau Anda memiliki gangguan kecemasan.

Di samping memberikan nuansa yang sangat dramatis mengenai keputusasaan Arthur, setidaknya film ini memberikan gambaran mengenai tak tepatnya penanganan orang-orang dengan gangguan mental. Penonton seperti dipancing untuk mendiskusikannya bersama teman-teman setelah selesai menyaksikan Joker.

Sekali lagi, jangan ajak anak nonton Joker ya!

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA