Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Pakai Lagu Milik Penjahat Pedofil, Lagu Joker Tuai Kritikan

Selasa 08 Oct 2019 05:00 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Film Joker.

Film Joker.

Foto: Warner Bros via AP
Rock and Roll Part 2 yang muncul di Joker merupakan lagu hit terpidana kasus pedofil.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dimasukkannya lagu kontroversial milik pedofil terpidana Gary Glitter di film Joker telah memicu gelombang kritik dari penonton bioskop. Banyak yang khawatir mantan penyanyi pelaku kriminal itu mendapatkan royalti musik yang menguntungkan.

Joker telah mencapai rekor box office selama akhir pekan, dengan Warner Bros menghasilkan 93,5 juta dolar di AS saja. Ini menandai debut tertinggi untuk sebuah film yang dirilis pada bulan Oktober dalam sejarah perfilman.

Joker juga mengumpulkan 140,5 juta dolar AS secara internasional. Alhasil, total penjualan tiket film menjadi 234 juta dolar AS, Warner Bros mengatakan hari Ahad (6/10).

Tetapi, terlepas dari kesuksesan akhir pekan pembukaan film tersebut, pembuat film tersebut telah memicu kontroversi karena menampilkan lagu hits Glitter tahun 1972 "Rock and Roll Part 2" dalam adegan yang panjang.

Dilansir CNBC pada Senin (7/10) dijelaskan, lagu ini diputar selama kurang lebih dua menit ketika Joaquin Phoenix, yang telah menerima sambutan hangat sebagai sosok penjahat, menari-nari menuruni tangga panjang di luar apartemennya di Gotham City. Glitter, yang bernama asli Paul Gadd, dilaporkan diperkirakan akan menerima uang dalam jumlah banyak karena menggunakan lagunya untuk digunakan dalam Joker.

Baca Juga

Glitter juga dianggap akan mendapat royalti musik tergantung pada keberhasilan penjualan tiket bioskop, penjualan DVD, dan penjualan soundtrack film. Pria berusia 75 tahun itu dipenjara selama total 16 tahun sejak tahun 2015 karena percobaan perkosaan, empat tuduhan penyerangan tidak senonoh, dan satu tuduhan berhubungan intim dengan seorang gadis di bawah 13 tahun.

Keenam pelanggaran tersebut dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Dia pertama kali dipenjara pada tahun 1999 ketika mengaku memiliki foto pelecehan anak.

Disutradarai oleh Todd Phillips, Joker menerima pujian kritis setelah debutnya di Venice Film Festival pada bulan Agustus. Namun, meskipun beberapa telah memuji cerita dan arahan Phillips berikut akting Phoenix, banyak yang mempertanyakan apakah film tersebut, yang menggambarkan pembunuhan massal, secara tidak sengaja dapat menggambarkan Joker sebagai tokoh heroik atau inspirasional.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA