Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Karakter Joker Terinspirasi Film Bisu Melodrama Romantis

Rabu 09 Oct 2019 00:35 WIB

Rep: Thomas Rizal (cek n ricek)/ Red: Thomas Rizal (cek n ricek)

Joaquin Phoenix dalam film Joker.

Joaquin Phoenix dalam film Joker.

Foto: Warner Bros via AP
Seringai karakter Joker dipengaruhi foto Veidt dari film The Man Who Laughs.

Ceknricek.com -- Demam Joker sedang melanda dunia. Hal ini tak terlepas dari peluncuran film Joker (2019) pada pekan ini.

Dengan berbagai kontroversinya, karakter Joker memang selalu menjadi hal menarik untuk dibahas. Joker dianggap sebagai simbol anarki yang melawan sistem yang dianggap penuh ketidakadilan.

Sifatnya yang konyol seperti menggunakan kartu dan ikan karet sebagai senjata, kecerdikan di balik sifat gilanya, serta aksinya yang tak bisa diprediksi membuat penggemar serial komik Batman menganggap Sang Pangeran Badut Kejahatan ini sebagai penjahat paling favorit. Tak hanya di dunia Batman, bahkan termasuk di DC Universe sekalipun.

Lantas bagaimana tokoh Joker itu bisa diciptakan? Sebagai tokoh yang penuh kontroversi, siapa penciptanya pun sampai sekarang menjadi persengketaan yang tak pernah usai.

Setidaknya ada tiga nama yang mengklaim sebagai pencipta dari karakter yang khas dengan seringai di wajahnya itu. Mereka adalah Bob Kane, Bill Finger, dan Jerry Robinson.

Ketiga orang ini sepakat bahwa tokoh Joker terinspirasi dari karakter Gwynplaine dari film The Man Who Laughs, sebuah film bisu tahun 1928. Terlihat jelas bahwa rupa fisik hingga rambut gaya rambut yang disisir ke belakang milik Joker adalah tampilan dari Gwynplaine yang diperankan oleh aktor Jerman, Conrad Veidt.

Sebagai film karya seorang ekspresionisme Jerman, Paul Leni, film ini merupakan adaptasi dari novel dengan nama yang sama (The Man Who Laughs, 1869) karya penulis dan penyair Prancis, Victor Hugo. Nama terakhir ini juga menulis beberapa novel legendaris lainnya, seperti Les Miserables (1862) dan The Hunchback of Notre-Dame (1831).

Melodrama Romantis
Ya, siapa sangka di balik tawa yang bisa membuat bulu kuduk merinding, Joker ternyata terinspirasi dari karya novel romantis yang penuh dengan drama. Film The Man Who Laughs termasuk kategori melodrama romantis yang mengisahkan Gwynplaine, anak dari Lord Clancharlie, lawan politik dari Raja James II di Inggris.

Raja James menghukum Lord Clancharlie dengan hukuman mati, serta merusak wajah Gwynplaine dengan senyum permanen. Hal ini demi mengingatkan Clancharlie bahwa anaknya akan selamanya mentertawakan kebodohan ayahnya.

Saat sang anak diasingkan dari kerajaan, ia bertemu dengan Dea, bayi perempuan kecil yang buta. Keduanya ditemukan oleh Ursus (diperankan oleh Cesare Gravina), pengusaha sirkus yang menganggap mereka sebagai keluarga.

Setelah dewasa, Gwynplaine tampil sebagai Pria yang Selalu Tertawa (The Man Who Laughs), badut dari acara sirkus keliling. Dirinya jatuh cinta dengan Dea (Mary Philbin), meski menjaga jarak dengan Dea lantaran menganggap dirinya yang cacat permanen dan dianggap aneh, tidak pantas untuk Dea. Namun Dea yang tak bisa melihat fisik Gwynplaine, bisa melihat hati Gwynplaine yang tulus.

Gwynplaine tidak pernah dianggap sebagai orang yang menyeramkan, lantaran dirinya adalah badut yang mengundang tawa. Namun senyumnya yang permanen begitu menakutkan bagi sebagian orang. Senyum mengerikan inilah yang akhirnya meninggalkan kesan lebih dari sekadar kisah cinta, namun juga melahirkan sebuah karakter fenomenal seperti Joker.

Singkat cerita, film ini mencapai klimaksnya setelah Ratu Anne (Josephine Crowell) yang menggantikan Raja James II, memberikan pengampunan untuk Gwynplaine dan mengembalikan harta warisan ayahnya. Semua itu diberikan sang ratu dengan satu syarat, yakni agar Gwynplaine menikah dengan seorang bangsawan, Josiana (Olga Baclanova).

''Seorang raja membuatku menjadi badut! Seorang ratu memberiku pasangan! Tetapi pertama-tama, Tuhan menjadikan saya seorang lelaki!,'' kata Gwynplaine.

Sang Pria yang Selalu Tertawa akhirnya menolak perintah sang ratu, yang membuat dirinya dikejar-kejar pasukan Inggris. Gwynplaine berhasil melarikan diri dan bersatu kembali dengan cintanya, Dea. Mereka akhirnya pergi berlayar menjauh dari Inggris bersama Ursus.

Warisan Abadi
Hingga saat ini, film The Man Who Laughs belum pernah diadaptasi menjadi film Hollywood, meski beberapa aktor ternama seperti Kirk Douglas dan Christopher Lee pernah menyatakan minatnya untuk mengadaptasi film bisu ini ke film modern. Film ini pernah dibuat ulang di Italia dan Prancis, namun tak terlalu dikenal publik.

The Man Who Laughs justru lebih dikenal karena menjadi pengaruh untuk film Universal Classic Monsters era 30-an seperti DraculaFrankensteinThe Old Dark HouseThe Invisible ManThe Black Cat, dan Bride of Frankenstein. Desain set Hall untuk The Man Who Laughs membantu pengembangan fitur-fitur Gothic dan ekspresionis yang digunakan dalam beberapa film horor.

Warisan The Man Who Laughs yang paling abadi justru adalah karakter Joker. Meski Bill Finger, Bob Kane, dan Jerry Robinson memiliki klaimnya masing-masing terhadap inspirasi awal penciptaan karakter Joker, ketiganya sepakat bahwa seringai yang tak pernah hilang dari wajah Joker dipengaruhi oleh foto Veidt dari film tersebut.

Dalam komik karya Alan Moore dan Brian Bolland, Batman: The Killing Joke (1988), penggambaran mata karakter Joker dari Bolland, mengingatkan langsung kepada mata Veidt di House of Lords. Dan kisah asal usul Joker dari komik tersebut, yakni seseorang yang mencoba menjadi komedian dan kehilangan istri dan anaknya yang belum lahir, sama seperti karakter utama dari novel-novel Victor Hugo.

Pertemuan pertama antara Batman dan Joker bahkan sempat diangkat menjadi edisi komik Batman: The Man Who Laughs (2005). Kisah cacat permanen yang membuat senyum abadi di wajah Gwynplaine juga menjadi latar belakang kisah darimana Joker mendapatkan senyumnya di The Dark Knight (2008).

Bahkan pada film Joker (2019) yang dibintangi Joaquin Phoenix, riasan badut yang digunakan Phoenix hampir merupakan salinan persis dari rupa badut pendukung di The Man Who Laughs yang membentuk grup pertunjukan Ursus. Baik Gwynplaine dan Arthur Fleck, karakter yang dimainkan Phoenix, ialah orang-orang yang dibuang oleh masyarakat dan kemudian menemukan tujuan baru dan berbahaya.

Pada akhirnya, melalui evolusi Joker kita bisa melihat sebenarnya sosok Gwynplaine masih selalu tersenyum melihat keberhasilannya menghibur dan mempengaruhi dunia.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA