Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Ini Cara Belanda Meminta Mahasiswanya Merenungkan Kematian

Selasa 12 Nov 2019 06:34 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Pemakaman umum (Ilustrasi)

Pemakaman umum (Ilustrasi)

Foto: IST
Cara ini dipakai universitas untuk mahasiswa dalam merenungkan hidup dan mati.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Sebuah universitas di Belanda telah menciptakan cara unik bagi mahasiswanya untuk merenungkan hidup dan mati. Caranya, yakni dengan berbaring di makam.

Penawaran yang dilakukan Universitas Radbound ini telah dilaporkan oleh berbagai outlet berita. Makam ini dibangun khusus terletak di belakang kapel sekolah dan siswa dapat memesan sesi untuk berbaring dan bermeditasi.

Dalam meminta siswa untuk mendaftar pengalaman tersebut, situs web universitas mengatakan seseorang dapat berbaring untuk merenungkan tentang kehidupan. Kemudian, siswa juga merenungkan hal apa yang menurutnya penting.

“Suatu bentuk modern dari mengingat kematianmu, yang berarti Anda sadar bahwa Anda fana. Jadi itulah adalah undangan. Buatlah sesuatu dari hidupmu,” ujar universitas tersebut, seperti yang dilansir dari Malay Mail, Selasa (12/11).

Universitas sebelumnya telah melakukan proyek serupa dari 2009 hingga 2011. Bantal dan tikar disediakan untuk pengguna dan dapat digunakan antara 30 menit dan tiga jam.

Baca Juga

Telepon dan buku dilarang digunakan. Proyek ini dimulai oleh pendeta sekolah John Hacking yang mengatakan bahwa ini adalah kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan menghargai kehidupan.

“Akhir hidup, kematian, adalah tabu, sulit bagi siswa. Kematian sangat sulit untuk dibicarakan, terutama ketika berusia 18, 19, 20 tahun,” kata Hacking.

Wakil universitas melaporkan pada Oktober bahwa fase pertama hanya menarik 39 orang dalam operasional dua tahun. Respon kali ini, beberapa orang menggunakannya setiap pekan.

Sekitar 30 siswa telah meminta melalui email untuk menghabiskan waktu di makam sejak awal tahun ajaran. Sejauh ini, 15 siswa telah menggunakannya.

“Ketika Anda berada di kuburan, Anda tidak mati. Berpura-pura mati, ingin mati itu sama sekali bukan maksud dari kuburan tersebut. Itu hanya undangan untuk membuat sesuatu (yang bermakna) dari hidup Anda,” ujar Wakil universitas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA