Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Review Charlie's Angels, tidak Ada yang Baru

Kamis 21 Nov 2019 00:38 WIB

Rep: Thomas Rizal (cek n ricek)/ Red: Thomas Rizal (cek n ricek)

Film Charlie

Film Charlie

Foto: Nadja Klier/Sony Pictures via AP
Charlie’s Angels masih saja menggunakan formulasi yang lama.

CEKNRICEK.COM -- Sejak kemunculannya sebagai serial televisi ABC di tahun 1976, Charlie’s Angels memang tak lepas dari kontroversi. Meski menunjukkan sisi feminisme dengan menunjukkan bahwa wanita bisa menjadi mata-mata super, Charlie’s Angels juga kerap dianggap sebagai bukti eksploitasi wanita.

Bagaimana tidak, tiga wanita yang disebut Angels dipekerjakan dan diperintah oleh seseorang yang tak pernah terlihat wajahnya bernama Charlie. Meski demikian, serial televisi ini menjadi begitu populer di tahun 70-an, hingga bisa dipertahankan selama lima musim. Film ini juga mempopulerkan tiga bintang serial ini Farrah Fawcett, Kate Jackson, dan Jaclyn Smith sebagai ikon aksi wanita di era tersebut.

Hampir 20 tahun kemudian, serial ini diangkat ke layar lebar, Charlie’s Angels (2000). Berbeda dengan seri aslinya yang lebih menunjukkan elemen dramatis, film ini justru menampilkan elemen yang lebih lucu, layaknya film Matrix (1999) yang diperankan oleh tiga wanita yang saat itu sedang berada di puncak popularitasnya: Cameron Diaz, Drew Barrymore, dan Lucy Liu.

Film ini pun laris manis, meski dikritik karena kurangnya aspek modifikasi dari serial aslinya. Kesuksesannya meraup US$264,1 juta dari penerimaan tiket (box office) membuat serial ini merilis sekuelmya, Charlie's Angels: Full Throttle. Meski tetap mendapatkan box office hingga US$259,1 juta, film ini dianggap gagal, bahkan mendapatkan 7 nominasi Golden Raspberry, penghargaan untuk film-film terburuk dan memenangi 2 kategori.

Baca Juga: Charlie's Angels 2019, Tiga Perempuan Tangguh Taklukan Musuh

Setelah vakum hingga 16 tahun, film ini akhirnya kembali diangkat ke layar lebar, Charlie’s Angels (2019) dan mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada Rabu (13/11). Dengan penyegaran para aktor, film ini melanjutkan cerita dari Charlie’s Angels terakhir dengan tentunya mata-mata baru untuk menggantikan mereka yang uzur.

Gerakan feminisme kembali coba disajikan dalam film ini. Berbeda dengan dua film sebelumnya yang disutradarai laki-laki (McG), film ini disutradarai oleh aktris Elizabeth Banks yang juga merupakan film keduanya sebagai sutradara setelah Pitch Perfect 2 (2015). Begitu pula dengan penyegaran yang dilakukan untuk para Angels, yang kali ini diperankan oleh Kristen Stewart (Sabina Wilson), Ella Balinska (Jane Kano), dan Naomi Scott (Elena Houghlin).

Formulasi Basi
Banks sendiri juga turut main dalam filmnya sebagai Rebekah Bosley, mantan Angel yang kini menjadi Bosley, asisten utama dari Charlie. Film ini juga dibintangi oleh aktor kawakan, Patrick Stewart dan Djimon Hounsou yang berperan sebagai John dan Edgar Bosley, serta Jonathan Tucker sebagai Hodak, pembunuh yang menghadirkan masalah bagi para Angels.

Meski menjanjikan sesuatu yang baru, tapi nyatanya Charlie’s Angels masih saja menggunakan formulasi yang lama. Beberapa klise seperti bahwa persaudaraan antar wanita adalah hal yang utama, juga bahwa wanita bisa melakukan segalanya seperti yang ada dalam film pertama dan keduanya kembali ditunjukkan di film ini.

Lagi-lagi film ini juga lebih menunjukkan sisi komedinya, ketimbang sisi dramatis dan laga, mengulang kesalahan yang sama seperti dua film terakhir Charlie’s Angels. Selain itu, plot twist yang coba disajikan film ini ujung-ujungnya juga bukan sesuatu yang inovatif.

Terdapat beberapa adegan dari film yang sebenarnya tidak terlalu penting-penting amat. Hal ini membuat penonton yang menyaksikan film berdurasi 119 menit ini seperti kehilangan momen keseruan yang seharusnya lebih ditunjukkan dalam film bernuansa mata-mata ini.

Sekadar informasi, film ini memang memiliki estimasi anggaran US$48-55 juta ini atau lebih rendah dari dua film sebelumnya, US$93 juta dan US$120 juta. Tak heran apabila adegan-adegan aksi ini terkesan kurang greget, meski beberapa koreografi dapat ditampilkan dengan irama yang tepat.

Selama 60 menit pertama kita hanya seperti menyaksikan adegan yang berulang, komedi yang begitu-begitu saja, hingga akhirnya film baru mulai bisa dinikmati setelah melewati hampir setengah durasi film. Mungkin ini memang sudah saatnya agar serial Charlie’s Angels berakhir demi kebaikannya sendiri.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA