Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

50 Cent Cecar Film Dokumenter Garapan Oprah

Ahad 15 Des 2019 12:22 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Indira Rezkisari

Oprah Winfrey

Oprah Winfrey

Foto: EPA
Oprah dianggap menargetkan pria kulit hitam lewat dokumenternya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Rapper 50 Cent dan Russell Simmons merasa kurang nyaman dengan proyek terbaru Oprah Winfrey. Proyek film dokumenter tentang gerakan #MeToo itu dinilai menunjukkan perilaku seksual yang salah dalam industri musik dengan Apple TV, yang akan menampilkan Simmons.

"Saya tidak mengerti mengapa Oprah menargetkan pria kulit hitam," tulis 50 Cent di media sosialnya, seperti dilansir Fox News, Ahad (15/12)

Lelaki bernama asli Curtis Jackson itu juga menegaskan, bahwa dokumenter film yang akan tayang perdana pada 2020 mendatang itu, menampilkan Drew Dixon. Yaitu salah satu dari banyaknya wanita yang membuat tuduhan pada Simmons yang kini berusia 62 tahun.

"Bukan Harvey Weinstein. Bukan Epstein, hanya Michaek Jackson dan Russell Simmons, ini sangat sedih," katanya

Lebih lanjut, 50 Cent juga mengunggah foto lainnya di akun Instagram dia, yang menampilkan gabungan enam pria yang dituduh melakukan pelanggaran seksual. Di antaranya, Bill Cosby, R. Kelly, Weinstein, Jeffrey Epstein, Kevin Spacey, dan Presiden Donald Trump.

Selain itu, di atas gambar Cosby dan R. Kelly tertera "JAIL". Sementara empat lelaki lainnya yang berkulit putih, dituliskan kata "WALK" di atasnya.

"Anda pikir Oprah tidak memperhatikan bagaimana ini terjadi," tulis mereka, dengan sangat menyindir ras dalam kasus tersebut.

Sementara itu, Simmons juga menanggapi Oprah, di mana menurutnya, sangat merepotkan ketika Oprah memilihnya untuk berada di film dokumenter tersebut.

“Oprah tersayang, Anda telah menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarga saya dan komunitas saya," katanya.

Dia mengklaim bahwa ia pernah menjadi playboy, atau yang saat ini disebut 'womanizer'. Bahkan, saking banyaknya mantan, sehingga beberapa orang dinilai dapat menafsirkan ulang atau membayangkan kembali ingatan yang berbeda terkait itu.

"Saya bersalah mengeksploitasi, mendukung, dan membuat soundtrack untuk masyarakat yang sangat tidak setara, tetapi saya tidak pernah melakukan kekerasan atau memaksakan diri pada siapa pun," tambahnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA