Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Jangan Dulu Pulang, Simak Tayangan Post Credit Dolittle

Kamis 16 Jan 2020 10:30 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Adegan film Dolittle dengan Robert Downey Jr sebagai bintang utama.

Adegan film Dolittle dengan Robert Downey Jr sebagai bintang utama.

Foto: Universal Pictures
Film Dolittle terbaru lebih mengikuti cerita di buku The Voyages of Doctor Dolittle.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Dolittle yang sedang tayang di bioskop Indonesia merupakan reboot kisah legendaris sosok Dolittle. Sinema memang bukan film pertama tentang karakter tersebut.

Sebelum ini, ada deretan judul lain yang menceritakan Dolittle, di antaranya tayang pada 1967, 1998, 2001, 2006, dan 2008. Film terbaru lebih mengeksplorasi tokoh dari buku aslinya.

Penulis Hugh Lofting memperkenalkan karakter Dolittle dalam buku The Voyages of Doctor Dolittle terbitan 1922. Sinema terkini arahan sutradara Stephen Gaghan lebih "patuh" pada karya tersebut.

Penonton mungkin lebih lekat dengan Dolittle yang diperankan Eddie Murphy sejak 1998. Dolittle versi Murphy itu sangat berbeda dengan Dolittle yang kini dihidupkan aktor Robert Downey Jr.

Baca Juga

photo
Adagen film fantasi Dolittle dengan Robert Downey Jr sebagai tokoh utama.

Latar belakang kehidupan serta lokasi tempat kedua tokoh itu hidup pun berbeda. Dolittle versi Murphy ada di era modern, sedangkan versi Downey berasal dari masa yang lebih lawas.

Dari segi eksekusi cerita, agaknya tidak ada yang istimewa dari petualangan Dolittle. Ekspedisinya tidak banyak berbeda dengan film petualangan serupa yang pernah ada.

Rintangan selama berlayar di samudera hingga ekspedisi mencari tanaman ajaib di pulau misterius tidak terlalu menampilkan kebaruan. Begitu pula kehadiran tokoh antagonis yang konyol tetapi merepotkan.

Pengemasan cerita agak terburu-buru, sejumlah adegan terkesan diringkas lewat narasi si burung macaw Poly. Penonton juga akan mendapati lompatan alur di beberapa bagian.

Keuntungannya, plot yang sederhana membuat film lebih mudah diterima penonton anak-anak. Meski demikian, sejumlah humor cenderung gelap sehingga butuh pendampingan orang tua.

Setelah film berakhir, sebaiknya tidak dulu beranjak karena ada tayangan post credit yang menanti. Memang tidak banyak berimbas pada cerita, tetapi cukup meledakkan tawa.

Meski antiklimaks dan menyisakan berbagai celah cerita, akhir film tidak terlalu buruk. Tidak menutup kemungkinan Universal Pictures menyiapkan sekuel untuk film Dolittle.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA