Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Upaya tak Tuntas Dignitate Angkat Isu 'Girl Power'

Rabu 22 Jan 2020 18:20 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Adegan film Dignitate yang menampilkan Caitlin Halderman sebagai tokoh utama.

Adegan film Dignitate yang menampilkan Caitlin Halderman sebagai tokoh utama.

Foto: MD Pictures
Dignitate yang dibintangi Al Ghazali dan Caitlin Halderman angkat isu girl power.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alfi (Al Ghazali) dan Alana (Caitlin Halderman) punya satu kesamaan. Mereka berdua diasuh oleh orang tua tunggal. Meski sendiri, Mama Alfi (Sophia Latjuba) dan Mama Alana (Izabel Jahja) membesarkan putra-putrinya dengan penuh cinta.

Sang ibunda selalu mengingatkan Alana supaya putrinya bisa menjaga martabat dan kehormatan sebagai perempuan. Bahkan, Mama Alana membuat anaknya percaya bahwa tidak ada laki-laki yang baik di dunia. Dia mendesak Alana menjaga pergaulan.

Ibunda Alfi lebih lunak. Dia tidak banyak menasihati atau mengekang putra bungsunya. Akan tetapi, ada tumpukan masalah yang mengendap dalam keluarga kecil itu, terutama berkaitan dengan sosok Regan (Giorgino Abraham).

Deretan tokoh itu hadir dalam Dignitate, film terbaru MD Pictures arahan Fajar Nugros. Sinema drama ini tampak berusaha keras mengedepankan isu girl power, bahwa perempuan bisa berdaya, tidak kalah dari laki-laki.

Upaya tersebut kurang berhasil, terasa tidak tuntas dari banyak sisi. Pesan mengenai perempuan yang berdaya hanya muncul dalam wujud dialog. Sinema tidak berbicara secara visual mengenai isu yang sebenarnya bisa lebih disoroti.

Misalnya, saat Alana memberikan dukungan kepada teman satu sekolahnya, Sabitha (Lania Fira), terkait masalah besar yang melanda. Tidak ada aksi lebih yang ditampilkan, atau bagaimana proses penyelesaian masalah.

Jalinan konflik dalam sinema drama ini juga terkesan berlebihan dan dipaksakan. Durasi 109 menit berlalu tanpa kebosanan, tetapi itu karena menontonnya sambil mengernyitkan dahi dan menggumamkan banyak komentar tak setuju.

Romansa pelajar SMU, perkelahian, dan geng motor, agaknya rumus yang tidak baru untuk sinema remaja saat ini. Sejumlah inkonsistensi dalam cerita pun terasa mengganggu, ditambah ketidaklogisan dan loncatan adegan.

Paling tidak, film mencoba menyisipkan pesan pentingnya keluarga untuk penonton remaja. Daya tarik lain yakni deretan pemain dengan penampilan atraktif serta kelucuan pemeran pendukung serta cameo yang sukses menghadirkan tawa di sana-sini.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA