Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Bill Gates Sudah 'Ramalkan' Virus Corona?

Kamis 30 Jan 2020 04:17 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Bill Gates pernah menyerukan atas kemungkinan adanya pandemi global pada 2018.

Bill Gates pernah menyerukan atas kemungkinan adanya pandemi global pada 2018.

Foto: EPA
Gates pernah peringatkan wabah penyakit akan menyerang secara global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri Microsoft, Bill Gates, pernah memperingatkan resiko mengenai ancaman besar adanya pandemi global pada 2015. Ia telah menyerukan agar dunia bersiap-siap menghadapi penyakit massal, selayaknya akan berperang.

Gates mengatakan, wabah Ebola yang menyebar di Afrika bertindak sebagai seruan agar dunia bertindak atas resiko pandemi. Ia menilai bahwa epidemi penyakit bisa terus menyebar ke berbagai negara.

“NATO memainkan permainan perang untuk memastikan bahwa orang-orang terlatih dan siap. Saat ini, kita membutuhkan permainan kuman,” ujar Gates dilansir Yahoo News, Kamis (30/1).

Gates mengatakan, orang-orang tidak perlu mempersiapkan bahan-bahan makanan di rumah mereka dalam jumlah banyak. Demikian dengan mencoba bersembunyi di bawah tanah, selayaknya bersembunyi karena akan ada monster berbahaya yang siap datang kapan saja.

“Kita tak perlu menimbun kaleng spageti, atau turun ke ruang bawah tanah, tapi kita harus segera pergi. Waktu tidak di pihak kita,” jelas Gates.

Gates kemudian mengulangi seruan atas kemungkinan adanya pandemi global pada 2018. Di tahun itu, pebisnis asal Amerika Serikat (AS) ini mengatakan bahwa pandemi flu dapat melenyapkan sebanyak 33 juta orang di seluruh dunia dalam waktu enam bulan. Ia mengutip penelitian dari Institute for Disease Modelling.

Pada 1918, ada flu yang menewaskan antara 50 juta dan 100 juta orang di seluruh dunia. Jumlah ini lebih besar dibandingkan total korban Perang Dunia I.

Virus corona baru yang pertama kali berasal dari Wuhan, Cina telah merenggut 81 nyawa di antara 2.700 kasus. Otoritas kesehatan telah menemukan kasus coronavirus di luar Cina, seperti di Thailand, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS), dan Australia.

Baca Juga

photo
Bill Gates


Gates melihat dalam kasus ancaman biologis, rasa urgensi kurang. Ia juga mencatat resiko penyakit yang mungkin disebarkan dengan sengaja. Karena itu, persiapan seluruhnya harus dilakukan, mencakup simulasi, latihan kesiapsiagaan, sehingga semua orang dapat lebih memahami bagaimana penyakit akan menyebar dan bagaimana menghadapi respons seperti karantina dan komunikasi untuk meminimalisir kepanikan.

Pada awal Januari 2019, kurang satu tahun sebelum wabah virus corona, Gates mengaku masih mengalami kesulitan tidur mengingat resiko epidemi global. Ia mengatakan perubahan iklim dan terorisme menjadi hal yang diperkirakan banyak orang, namun epidemi global adalah peristiwa yang paling mungkin menyebabkan kematian puluhan juta orang dalam waktu singkat.

Gates mengatakan, dia menganggap ancaman dari flu sebagai penyebab yang terbesar, mengingat kemampuannya untuk menyebar di udara. Pada akhir pekan lalu, Yayasan Bill & Melinda Gates mengumumkan akan memberikan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk membantu mengatasi penyebaran virus corona, serta negara-negara Afrika untuk semakin berlindung dari ancaman virus dan epidemi lainnya.

Forum Ekonomi Dunia, Yayasan Bill & Melinda Gates dan Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins tahun lalu menjalankan simulasi wabah virus corona yang ditularkan dari kelelawar ke babi, kemudian ke manusia, dan akhirnya ke orang-orang lainnya. Seperti SARS, simulasi ini memperkirakan sebanyak  65 juta orang bisa meninggal dalam kurun waktu 18 bulan.

"Pandemi parah berikutnya tidak hanya akan menyebabkan penyakit besar dan kematian, tetapi juga dapat memicu konsekuensi ekonomi dan sosial yang dapat berkontribusi besar terhadap dampak dan penderitaan global,"  ujar pernyataan bersama kelompok itu pada 17 Januari lalu.

Upaya untuk mencegah resiko dari pandemi global ini dikatakan akan membutuhkan tingkat kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara pemerintah, organisasi internasional, dan sektor swasta. Ketiga pihak mengatakan  pemerintah, organisasi dan dunia bisnis perlu bekerja sama untuk memerangi penyebaran.

Ini termasuk menggunakan aset perusahaan logistik dan media sosial untuk mengurangi potensi penyebaran. Selain itu, termasuk mendapatkan sumber daya ke daerah yang terkena dampak.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA