Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Dampak Sakit Gigi pada Akademis Anak

Sabtu 22 Jun 2019 19:55 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Orang tua masih mengandalkan sekolah untuk mengedukasi anak dalam kesehatan gigi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masih banyak anak-anak yang kurang memperhatikan kesehatan mulut. Padahal, kesehatan mulut pada kehidupan anak-anak berdampak pada potensi akademis serta rasa percaya diri mereka.

Mengapa bisa demikian? Beberapa penelitian di delapan negara membuktikan hal ini. Survei global Pepsodent di Cile, Mesir, Prancis, Italia, Indonesia, Amerika Serikat, Ghana, dan Vietnam pada 2018 memperlihatkan keterkaitan kesehatan gigi dengan raihan akademis anak.

Survei ini melibatkan 4.094 anak berusia enam sampai 17 tahun beserta orang tua mereka. Di Indonesia, survei dilakukan pada 506 anak. Hasil utama survei memperlihatkan banyaknya anak mengeluh sakit gigi selama setahun terakhir, yaitu 64 persen. Sebanyak 41 persennya menyatakan, intensitas nyerinya antara sedang hingga berat.

"Masalah ini ternyata menyebabkan mereka menemui banyak kesulitan di sekolah, baik dalam meraih prestasi akademis maupun bersosialisasi," kata Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia Drg Ratu Mirah Afifa GCClinDent MDSc di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Akibat sakit gigi, 37 persen anak mengaku harus absen dari sekolah dengan jumlah absen rata-rata dua hari per anak dalam setahun. Rasa sakit pun menyebabkan 29 persen dari anak-anak mengalami gangguan tidur, sehingga terpaksa harus sekolah dalam keadaan mengantuk.

Sebagian besar dari mereka juga sulit berkonsentrasi dan tidak bisa aktif dalam berbagai kegiatan sekolah yang membuat mereka tak mampu menyerap materi pelajaran. "Anak-anak yang bermasalah dengan gigi dan mulut cenderung dua kali lebih rentan untuk meng alami krisis kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi, bahkan menolak untuk memperlihatkan senyum mereka dibandingkan anak-anak yang memiliki gigi dan mulut yang sehat," kata Mirah.

Menurut psikolog anak dan keluarga Ayoe Sutomo, dalam menemukan rasa percaya diri anak, ada beberapa komponen yang saling mendukung. Di antaranya, rasa nyaman terhadap diri sendiri yang menimbulkan perasaan positif serta membuat diri merasa berharga (self-esteem).

Kebiasaan hidup sehat, termasuk merawat kesehatan gigi, kata Ayoe, termasuk hal yang mendukung anak untuk memiliki self-esteem yang baik. Dengan kebiasaan ini, anak menda patkan timbal balik positif dari lingkungan yang membuatnya merasa nyaman. "Saat ini, anak tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan akademis, namun juga kecerdasan interpersonal. Tentunya, keduanya membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi."

Anak yang memiliki self-esteem rendah cenderung menjadi individu yang pesimistis. Padahal, sikap optimistis dan berani menghadapi tantangan dibutuhkan setiap individu untuk maju. Rasa mampu itu pada akhirnya meningkatkan self-esteem anak-anak lagi.

Survei global ini juga menyoroti peranan orang tua dalam membiasakan anak menjaga kesehatan gigi sejak dini. Meskipun 90 persen dari orang tua yang terlibat dalam survei ini mengaku anak-anak mereka sudah menyikat gigi dua kali sehari, 24 persennya membolehkan anak-anaknya melewatkan sikat gigi pada malam hari.

Bahkan, 21 persennya menjadikan itu sebagai bentuk reward atau hadiah. Belum lagi, 79 persen dari orang tua juga menyebutkan mereka baru mengajak anak mengunjungi dokter gigi saat masalah sudah timbul, bukan sebagai kunjungan rutin enam bulan sekali. Hal ini menyebabkan anak-anak lebih rentan sakit gigi.

Dampak ini terlihat pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Dr drg RM Sri Hananto Seno SpBM (K) MM selaku Ketua Peng urus Besar Persatuan Dokter Gigi Indo nesia (PDGI) menjelaskan, saat ini, gigi berlubang masih menjadi masalah besar kesehatan gigi dan mulut anak. Terlebih, hanya 2,8 persen anak usia tiga tahun ke atas yang menyikat gigi dua kali sehari.

Dikatakannya, sebanyak 90,2 persen anak berusia lima tahun memiliki masalah gigi ber lubang dengan indeks DMF-T atau indeks untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen sebesar 8,1. Anak usia 12 tahun ke atas sebanyak 72 persen dengan masalah gigi berlubang dengan indeks DMF-T sebesar 1,9. "Di usia dewasa (35 sampai 44 tahun) lebih buruk lagi, sebanyak 92,2 per sen bermasalah gigi berlubang dengan indeks 6,9," kata Seno.

Data lain juga menyebutkan, dari 57,6 per sen penduduk Indonesia yang mengakui bermasalah kesehatan gigi dan mulut, hanya 10,2 persennya yang mendapatkan pelayanan tenaga medis. Semua fakta ini menunjukkan perawatan kesehatan gigi dan kunjungan ke dokter gigi belum menjadi kebiasaan rutin. "Edukasi untuk menjaga kondisi kesehatan gigi masih harus terus digalakkan," ujarnya.

Survei lain dilaksanakan FDI World Dental Federation pada awal 2019 di 13 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, 78 persen dari orang tua di Indonesia menyatakan, sekolah adalah tempat tepat bagi anak mendapatkan edukasi kesehatan gigi dan mulut. Itulah sebabnya, kegiatan school program menjadi langkah strategis karena orang tua masih mengandalkan sekolah dalam mengedukasi anak-anak untuk kesehatan gigi dan mulut.

sumber : Pusat Data Republika/Dewi Mardiani
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA