Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Novelis Risa Saraswati Tepis Citra Horor dengan Film Ananta

Rabu 02 May 2018 10:31 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Indira Rezkisari

Para pemain dan sosok di balik layar film Ananta.

Para pemain dan sosok di balik layar film Ananta.

Foto: Republika/Christiyaningsih
Menulis cerita cinta jadi pelarian Risa ketika jenuh menulis kisah horor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Risa Saraswati dikenal publik sebagai penulis novel horor. Novel Danur karyanya yang diangkat ke layar lebar mencatatkan jejak sebagai salah satu film horor laris di Tanah Air. Namun Risa rupanya tak melulu berkutat dengan dunia mistis. Ia juga punya sisi romantis yang dituangkan dalam novel berjudul Ananta Prahadi.

Satu-satunya novel percintaan yang pernah ditulis Risa tersebut kini ikut diadaptasi menjadi film. Film berjudul Ananta itu secara resmi akan diputar di bioskop besok (3/5). "Novel Ananta Prihadi adalah salah satu pembuktian ke diri sendiri bahwa saya juga bisa menulis berdasarkan imajinasi," ungkapnya saat ditemui dalam pemutaran perdana Ananta, Senin (30/4).

Menurutnya kisah Ananta terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Risa mengaku pernah jatuh cinta dengan sahabatnya namun akhirnya berpisah lantaran sahabatnya meninggal dunia. Pengalaman inilah yang menjadi salah satu pembentuk alur cerita dalam novel Ananta Prihadi.

"Ada sisi manusiawi dalam diri saya yang dituangkan dalam novel ini. Kesulitan terbesar adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa saya bisa menulis roman di tengah citra sebagai penulis horor," ungkap wanita 33 tahun tersebut.

Dari 16 buku yang sudah ditulisnya, 14 di antaranya bergenre horor sedangkan dua lainnya adalah roman dan thriller. Risa mengungkapkan menulis cerita cinta baginya juga merupakan pelarian ketika jenuh menulis kisah mistis. Ketika menulis kisah mistis, ia selalu berkomunikasi dengan makhluk halus dan menuliskan apa yang mereka ceritakan.

Ketika 'melarikan diri' ke novel romantis, Risa bisa lebih mengekspresikan emosinya sendiri dan tak terikat dengan kawan-kawannya dari dunia lain. "Menulis horor buat saya ada sisi tegangnya karena berhadapan langsung dengan hantu. Kalau saya salah menulis sedikit saja mereka protes dan melakukan hal yang tidak saya suka. Sebaliknya dengan menulis drama saya lebih enjoy karena bisa menuangkan emosi," papar wanita kelahiran Bandung ini.

Novel Ananta Prihadi yang diterbitkan pada 2014 mengisahkan seorang gadis bernama Tania yang gemar melukis namun antisosial. Akibatnya Tania selalu punya masalah ketika berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya. Namun suatu hari ia berkenalan dengan pria lugu bernama Ananta. Kehadiran Ananta akhirnya menjadi jembatan bagi Tania untuk menjalin interaksi dengan orang-orang di lingkungannya.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES