Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Dengarkan Musik Kurangi Rasa Sakit pada Pasien Kanker

Selasa 18 Jun 2019 03:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Mendengarkan musik

Mendengarkan musik

Foto: Mentalfloss
Mendengarkan musik di rumah dapat mengurangi rasa sakit dan kelelahan pasien kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian baru di Taiwan menemukan efek lanjutan dari mendengarkan musik bagi pasien kanker. Mendengarkan musik di rumah dapat mengurangi rasa sakit dan kelelahan. Musik juga dapat mengurangi hilangnya nafsu makan dan kesulitan berkonsentrasi pasien kanker.

Dalam studi tersebut, peneliti melibatkan pasien kanker payudara yang diminta mendengarkan musik selama 30 menit. Dikutip dari Reuters, rutinitas ini dilakukan selama lima kali sepekan. Cara tersebut ternyata mengurangi efek samping kanker dan perawatannya selama 24 pekan.

Para peneliti merekrut 60 pasien kanker payudara. Peneliti secara acak menugaskan setengah dari mereka ke sebuah kelompok yang akan mendengarkan musik di rumah menggunakan pemutar MP3 yang disediakan oleh tim studi. Mereka mendapatkan pilihan musik klasik, musik untuk ruang tamu, populer, Taiwan, dan agama untuk dipilih.

Pasien lain juga diberi daftar dan instruksi yang sama tentang seberapa sering mendengarkan. Hanya saja, pilihan mereka adalah berbagai jenis musik ambient. Terutama terdiri dari suara lingkungan yang penelitian telah menunjukkan tidak banyak mengurangi rasa sakit atau gejala.

Sebelum para wanita menjalani operasi dan setelah enam, 12, dan 24 pekan mendengarkan musik, semua pasien menilai keparahan 25 gejala fisik pada skala lima poin. Kemudian, mereka pun membuat peringkat lima kategori kelelahan pada skala lima poin yang terpisah dan tingkat rasa sakit yang  dirasakan pada skala 100 poin.

Rata-rata skor keparahan gejala dari kelompok terapi musik telah turun lima poin pada penilaian enam pekan. Skor keparahan turun tujuh poin pada 12 pekan dan hampir sembilan poin setelah 24 pekan. Skor nyeri dan skor kelelahan keseluruhan juga turun di setiap penilaian.

Bagi mereka yang mendengarkan musik, kelelahan fisik dan mental juga menurun pada enam pekan. Sebaliknya, skor keparahan nyeri dan gejala pada kelompok satunya meningkat dan tetap lebih tinggi daripada pada awal percobaan.

Pasien yang terlibat studi mengatakan musik membantu kesejahteraan fisik dan psikologis. Musik menjauhkan mereka dari pikiran negatif tentang kanker. Cara tersebut memberikan kenyamanan sehingga memberikan efek yang lebih positif.

"Terapi musik itu nyaman, tidak melibatkan prosedur invasif, dan dapat dengan mudah digunakan oleh orang-orang dalam kenyamanan rumah mereka," kata penulis studi senior Kuei-Ru Chou dari Taipei Medical University.

Penelitian yang dirilis oleh //European Journal of Cancer Care// ini menyatakan, intervensi musik dalam rumah juga dapat digunakan tanpa biaya. Chou  menjelaskan, saat ini tidak bisa dipungkiri layanan kesehatan yang berkembang saat ini cukup menelan biaya yang besar.

Berdasarkan hasil, terapi musik mungkin tidak menghilangkan kelelahan fisik dan mental jangka panjang. Studi di masa depan harus menggunakan langkah-langkah obyektif dari rasa sakit dan kelelahan, selain langkah-langkah subjektif yang digunakan dalam penelitian ini.

Para peneliti juga tertarik mempelajari bagaimana dan mengapa terapi musik mengurangi gejala dan rasa sakit. Dengan mendengarkan musik seseorang menghasilkan lebih banyak endorfin, dopamin, dan serotonin di otak.

Zat-zat kimia tersebut dapat memicu kegembiraan dan emosi positif yang mengalihkan perhatian pasien dari emosi negatif. Musik dapat memengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, pernapasan, otot, kerangka, saraf, dan metabolisme juga meredakan ketegangan otot dan rasa sakit.

"Musik memainkan peran utama dalam pengaturan diri konteks emosional. Terapi musik dapat membawa beberapa manfaat bagi pasien kanker, membantu mereka menemukan cara untuk mengatasi stres, ketakutan, dan kesepian," kata Tereza Alcantara-Silva dari Universitas Federal Goias di Brasil yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA